Situasi geopolitik global kembali memanas seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada Minggu, 1 Maret 2026. Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak, memicu balasan rudal dan drone dari Iran ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
Merespons dinamika yang mengkhawatirkan ini, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya telah menyuarakan kekhawatirannya tentang potensi perang besar antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam pandangannya yang diunggah di akun X pada Jumat, 27 Februari 2026, SBY menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan militer, terutama saat negosiasi nuklir di Jenewa berlangsung alot.
SBY menilai, baik Presiden AS Donald Trump maupun Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, memiliki keunikan karakter yang mencakup ego, ambisi, dan kepentingan pribadi. Ia memperingatkan bahwa keputusan perang bukanlah langkah yang mudah diambil, terutama bagi pemimpin yang memahami konsekuensi strategisnya. “Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah,” tulis SBY.
Dalam perspektif seorang panglima tertinggi, SBY menekankan bahwa perang harus melalui kalkulasi rasional dan pertimbangan mendalam, membedakan antara ‘war of necessity’ (perang yang harus dilaksanakan) dan ‘war of choice’ (pilihan politik). Ia mengingatkan bahwa sebuah negara hanya patut memilih perang jika ada keyakinan kuat bahwa konflik tersebut dapat dimenangkan dan tidak berujung pada kebuntuan strategis.
Jauh sebelum eskalasi terbaru ini, pada Juni 2025, SBY juga telah memperingatkan bahwa dunia berada di ambang malapetaka jika perang Israel-Iran tidak terkendali. Ia menyebutkan lima “orang kuat” yang akan menentukan masa depan perdamaian dan keamanan dunia, yaitu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. SBY berharap kelima pemimpin tersebut diberikan kearifan jiwa dan kejernihan pikiran dalam mengambil keputusan.
Kini, dengan tewasnya Ali Khamenei dan serangan balasan Iran, konflik AS-Iran telah memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Presiden Donald Trump, yang saat ini menjabat periode kedua, telah menunjukkan kebijakan agresif terhadap Iran, termasuk pengenaan tarif 25 persen bagi negara-negara yang tetap berdagang dengan Teheran. Analis juga mengaitkan tindakan Trump terhadap Iran dengan upaya untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu domestik dan meningkatkan popularitasnya menjelang pemilu sela.
Di tengah situasi yang memanas ini, Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi mediator dalam konflik AS-Iran. Tawaran mediasi ini disambut positif oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta, menunjukkan adanya harapan untuk jalur diplomatik di tengah ketegangan militer yang terus berlanjut.