SBY Peringatkan Trump dan Khamenei di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

Mantan Presiden Republik Indonesia, (SBY), kembali menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Amerika Serikat (AS) dan Pemimpin Tertinggi Iran . Pesan ini dilontarkan di tengah memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Melalui akun X pribadinya pada Jumat, 27 Februari 2026, SBY menyoroti perundingan nuklir antara AS dan Iran yang sedang berlangsung di Jenewa, Swiss. Ia mengakui bahwa negosiasi tersebut sangat rumit dan penuh tantangan untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak, mengingat perbedaan kepentingan yang mendalam.

SBY, yang memiliki pengalaman luas dalam resolusi konflik baik di tingkat nasional maupun internasional, mengingatkan para pemimpin dunia tentang potensi perang besar jika perundingan nuklir gagal. Ia menekankan bahwa situasi di kawasan Timur Tengah saat ini berada di ambang konflik terbuka, dengan kedua negara yang siap berperang.

Dalam pesannya, SBY juga mengutip sebuah kalimat yang menurutnya penting untuk diingat oleh para pemimpin politik, yaitu presiden atau perdana menteri: “Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati.” Ia berpandangan bahwa keberhasilan sebuah perang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh hati dan pikiran para prajurit.

Secara khusus, SBY mengamati bahwa baik Donald Trump maupun Ali Khamenei memiliki ‘keunikan’ tersendiri, termasuk ego, ambisi, dan kepentingan pribadi. Ia menyoroti kekhawatiran Trump akan reputasi dan warisannya jika negosiasi gagal, serta kekhawatiran Khamenei akan kemungkinan pergantian rezim jika konflik memburuk, yang disebutnya sebagai ‘survival interest’ bagi pemimpin Iran.

Eskalasi Konflik Terbaru dan Respons Internasional

Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Kedutaan Besar Iran di Jakarta melaporkan adanya serangan AS dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini disebut menimbulkan korban sipil, termasuk anak-anak dan fasilitas pendidikan. Kedubes Iran bahkan menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, syahid akibat serangan tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengumumkan serangan militer “besar-besaran dan berkelanjutan” terhadap Iran, dengan tujuan menghancurkan rudal dan angkatan laut Iran. Trump menuduh Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya, yang diklaim telah dibombardir oleh AS dan Israel pada Juni 2025.

Menanggapi eskalasi ini, Pemerintah Indonesia menyerukan penghentian segera permusuhan dan menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian damai melalui dialog. Presiden menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut, sebuah langkah yang diapresiasi oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Namun, Kedubes Iran juga meminta Indonesia untuk mengambil sikap tegas dalam mengecam agresi yang disebut dilakukan oleh AS dan Israel.

Di panggung internasional, China dan Rusia turut menyuarakan keprihatinan serius. Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendorong solusi diplomatik dan mengecam serangan AS dan Israel, menyebut tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada 2 Maret 2026, menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat. Larijani mengkritik kebijakan Presiden Trump, menuduhnya telah “menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan dengan harapan palsu.”

Ketegangan antara AS dan Iran memiliki riwayat panjang, termasuk insiden pembunuhan komandan senior militer Iran Qasem Soleimani pada Januari 2020 oleh drone AS di Baghdad, yang memperuncing ketegangan kedua negara.