Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Eskalasi ini memicu respons keras dari Teheran, termasuk penutupan Selat Hormuz yang vital bagi jalur distribusi minyak global, menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam.
Serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu kemarahan dan ancaman pembalasan dari Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, mengirimkan peringatan melalui transmisi radio VHF kepada kapal-kapal agar tidak melintas.
Penutupan Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, secara efektif menghentikan sebagian besar lalu lintas kapal tanker. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan beberapa insiden keamanan dan mencatat setidaknya 150 kapal tanker menjatuhkan jangkar di perairan Teluk, di luar selat tersebut. Selat ini merupakan urat nadi energi dunia, menangani sekitar 20 hingga 31 persen pasokan minyak dan gas global, atau sekitar 13 hingga 20 juta barel minyak per hari.
Dampak langsung dari krisis ini terlihat jelas di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13 persen, mencapai sekitar US$82 per barel. Analis memprediksi harga bisa menembus US$100, bahkan US$120 per barel jika gangguan pasokan berlanjut, menyamai lonjakan saat invasi Rusia ke Ukraina. Jorge Leon, Senior Vice President sekaligus Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, memperkirakan minyak mentah Brent akan melonjak US$20 per barel pada awal perdagangan, seiring meningkatnya premi risiko di pasar.
Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management, menyatakan bahwa serangan ini memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap harga minyak dibandingkan insiden sebelumnya. Senada, Alicia García-Herrero, kepala ekonom untuk Asia-Pasifik di Natixis, memprediksi pembukaan pasar modal pada Senin (2/3) akan diwarnai dengan penurunan ekuitas global 1-2 persen, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 5-10 basis poin, dan harga minyak melonjak 5-10 persen.
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar pada pasokan minyak global, menyebabkan kenaikan harga dan mengganggu ekonomi dunia. Sementara itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi membengkakkan subsidi energi dan BBM, menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, serta meningkatkan inflasi.
Meskipun ada jalur pipa alternatif seperti pipa East-West Arab Saudi (kapasitas 5 juta bph) dan pipa Abu Dhabi Uni Emirat Arab (kapasitas 1,5 juta bph), kapasitas ini dinilai tidak cukup untuk menggantikan volume minyak yang biasa melintasi Selat Hormuz. Menanggapi konflik yang meluas, OPEC+ dalam pertemuan yang telah dijadwalkan sebelumnya sepakat untuk meningkatkan kuota pasokan bulan depan sebesar 206.000 barel per hari.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump mengumumkan “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran dan mengklaim pasukan AS telah menghancurkan sembilan kapal angkatan laut Iran. Operasi Israel sendiri diberi sandi “Rising Lion”. Kondisi di Iran sendiri dilaporkan berada dalam status darurat penuh, dengan Kementerian Pendidikan menginstruksikan penghentian seluruh aktivitas.