Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, kini menghadapi krisis serius menyusul peningkatan signifikan gangguan elektronik dan kemunculan klaster-klaster tanker dalam jumlah besar. Kondisi ini diperparah oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang secara efektif mengganggu lalu lintas maritim dan memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi dan rantai pasok.
Setidaknya selusin klaster tanker telah teridentifikasi di dekat Selat Hormuz, dengan beberapa kelompok bahkan terdiri dari lebih dari 200 kapal dari berbagai jenis. Fenomena ini diyakini sebagai indikasi kuat adanya peningkatan gangguan elektronik di sekitar jalur air strategis tersebut. Perang elektronik yang terjadi di Teluk Persia secara masif mengganggu sistem navigasi, termasuk Sistem Pemosisian Global (GPS), sehingga meningkatkan risiko tabrakan maritim di area tersebut.
Lalu Lintas Pelayaran Anjlok Drastis
Dampak dari situasi ini sangat terasa pada lalu lintas pelayaran. Data menunjukkan bahwa volume transit kapal melalui Selat Hormuz pada 1 Maret 2026 anjlok hingga 86% dibandingkan rata-rata tahunan. Bahkan, dalam 24 jam hingga 5 Maret, lalu lintas kapal merosot tajam dari rata-rata 138 kapal per hari menjadi hanya dua kapal, dan keduanya bukan merupakan kapal tanker. Lebih dari 1.100 kapal di Teluk Persia dilaporkan telah terdampak oleh gangguan sinyal dalam beberapa hari terakhir.
Meskipun media Iran pada 28 Februari 2026 melaporkan bahwa Selat Hormuz “secara efektif” telah ditutup menyusul serangan AS dan Israel, belum ada pengumuman resmi mengenai blokade penuh. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menutup selat tersebut, melainkan menuduh AS dan Israel sebagai penyebab utama ketidakamanan yang membuat kapal-kapal enggan melintas. “Produksi dan transportasi minyak melambat atau berhenti bukan karena kami, tapi karena serangan dan agresi Israel dan Amerika terhadap kami,” ujar Araghchi.
Dampak Ekonomi dan Geopolitik
Ketegangan geopolitik ini telah mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak menembus US$100 per barel. Menteri Energi Qatar bahkan memproyeksikan harga minyak mentah dunia dapat mencapai US$150 per barel dalam dua hingga tiga minggu ke depan jika Selat Hormuz tetap tertutup. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan volume besar ekspor gas alam cair (LNG). Penutupan jalur ini memaksa produsen di Teluk Persia untuk menghentikan produksi minyak karena kapasitas penyimpanan yang menipis.
Negara-negara Asia menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Lebih dari 40 kapal yang terafiliasi dengan Jepang, termasuk tanker minyak, dilaporkan tertahan di Teluk Persia. Jepang sendiri mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah. Selain itu, Korea Selatan dan Taiwan, yang merupakan produsen chip memori dan prosesor canggih dunia, sangat bergantung pada impor LNG dari Qatar untuk menggerakkan pabrik-pabrik mereka.
Indonesia Berupaya Amankan Kapal
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan bahwa Kedutaan Besar RI di Teheran tengah berdiplomasi dengan Iran terkait dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz. Pihak Pertamina memastikan bahwa dua kapal tanker dan awaknya dalam kondisi aman. Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, mendesak pemerintah untuk menyiapkan skenario mitigasi komprehensif guna menghadapi potensi lonjakan harga minyak dan dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) RI.
Respon Internasional dan Insiden Serangan
Komunitas internasional juga bergerak merespons krisis ini. China mendesak penghentian segera operasi militer di kawasan tersebut. Sementara itu, Prancis dan sekutunya tengah menyiapkan misi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang akan melibatkan negara-negara Eropa dan non-Eropa. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memberikan jaminan keamanan bagi kapal-kapal tanker dan kemungkinan akan mengerahkan angkatan laut untuk mengawal mereka. “Amerika Serikat menawarkan asuransi risiko politik untuk kapal tanker yang beroperasi di Teluk (Arab). Kami mungkin juga akan berlayar bersama mereka untuk perlindungan,” kata Trump.
Situasi di Selat Hormuz juga diwarnai oleh insiden serangan langsung terhadap kapal. Sekitar 10 kapal di atau dekat selat tersebut telah diserang sejak Iran memblokir jalur air strategis itu. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sembilan serangan dalam satu minggu, termasuk empat insiden yang menewaskan total tujuh orang. Salah satu insiden tragis menimpa kapal tunda Mussafah 2 berbendera Uni Emirat Arab pada 6 Maret 2026, yang meledak dan tenggelam. Empat dari tujuh awak kapal tersebut adalah Warga Negara Indonesia (WNI).