Selat Hormuz Mencekam: Kapal Tanker Yunani Berlayar Tanpa Sinyal di Tengah Rentetan Serangan

selat hormuz, konflik iran, kapal tanker, keamanan maritim, minyak mentah

Situasi di memanas drastis setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari 2026. Jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini kini menjadi zona berisiko tinggi bagi kapal-kapal komersial, menyusul serangkaian serangan dan ancaman blokade dari Teheran. Di tengah ketegangan tersebut, sebuah berbendera Yunani berhasil melintasi selat tanpa sinyal pelacak, menyoroti upaya kapal untuk menghindari deteksi di perairan yang berbahaya.

Kapal tanker Shenlong, yang dioperasikan oleh Dynacom Tankers Management Ltd dari Yunani, terpantau mematikan transpondernya di Teluk Persia pada 4 Maret 2026. Kapal yang mengangkut satu juta barel Saudi ini kemudian mulai mengirimkan sinyal kembali di dekat pantai India pada Senin pagi, 9 Maret 2026. Insiden ini menjadi salah satu contoh bagaimana kapal-kapal besar berusaha menavigasi Selat Hormuz sejak lalu lintas pelayaran di sana hampir sepenuhnya terhenti akibat konflik.

Eskalasi Konflik dan Dampaknya pada Pelayaran

Konflik yang meletus setelah serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran, termasuk tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, memicu balasan rudal dan serangan drone dari Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan peringatan yang melarang kapal melintas, yang secara efektif menghentikan lalu lintas pelayaran.

Dalam lebih dari sepekan terakhir, sekitar 10 kapal dilaporkan diserang di atau dekat Selat Hormuz. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat setidaknya sembilan serangan terhadap kapal dalam satu minggu, dengan empat insiden menyebabkan total tujuh pelaut tewas. Pada 2 Maret 2026, masing-masing satu orang tewas di kapal Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative. Kapal Hercules Star juga menjadi sasaran serangan pada hari yang sama. Kemudian, pada 6 Maret 2026, kapal Mussafah 2 dihantam serangan yang menewaskan empat orang.

Data dari sejumlah lembaga analisis maritim menunjukkan bahwa rentetan serangan ini hampir melumpuhkan lalu lintas kapal di selat tersebut. Perusahaan analisis energi Kpler melaporkan aktivitas kapal tanker di kawasan itu turun hingga 90 persen dalam satu minggu terakhir. Sekitar 200 hingga 300 kapal tanker yang memenuhi standar internasional dilaporkan terjebak di sekitar Selat Hormuz.

Respons Internasional dan Strategi Penghindaran

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa pemerintahnya siap mengawal kapal dagang untuk menjaga stabilitas pasokan energi global dan berharap lalu lintas kapal akan segera kembali normal. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur laut tersebut.

Sebagai respons terhadap ancaman tersebut, Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional Arab Saudi, mulai mengalihkan pengiriman minyak mentah ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Volume pengiriman melalui Yanbu meningkat tiga kali lipat pada Maret 2026, mencapai rata-rata 2,5 juta barel per hari. Namun, rute Laut Merah juga menghadapi risiko keamanan dari kelompok Houthi.

Kondisi ini juga memicu lonjakan harga minyak global, dengan harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel pada 8 Maret 2026. Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) juga memperingatkan bahwa misi penyelamatan pun berpotensi menjadi target serangan, menciptakan ketidakpastian operasional yang menghambat perdagangan rutin di kawasan Teluk.