Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Ratusan Tanker Minyak dan LNG Terjebak di Tengah Krisis Iran

selat hormuz, krisis iran, tanker lng, harga minyak, geopolitik timur tengah

Situasi di Timur Tengah memanas ke titik kritis, menyebabkan , jalur pelayaran vital dunia, nyaris lumpuh total. Sejak Sabtu, 28 Februari 2026, sejumlah besar perusahaan pelayaran global telah menghentikan operasional atau mengalihkan rute kapal-kapal mereka dari selat tersebut. Langkah drastis ini diambil menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan ancaman penutupan jalur navigasi strategis tersebut.

Krisis ini diperparah dengan kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut, memicu ketidakpastian geopolitik yang mendalam di kawasan. Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya 150 kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) kini terdampar di luar Selat Hormuz, tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sementara itu, sedikitnya 14 kapal dilaporkan melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat.

Ancaman Penutupan dan Peringatan Navigasi

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara tegas mengumumkan penutupan selat melalui transmisi radio frekuensi tinggi pada Sabtu, 28 Februari 2026, memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melintas. Meskipun Angkatan Laut Inggris menyatakan perintah Iran tersebut tidak mengikat secara hukum dan menyarankan kapal untuk melintas dengan sangat hati-hati, risiko di lapangan dinilai ekstrem. Asosiasi tanker INTERTANKO bahkan mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS telah mengeluarkan peringatan navigasi di seluruh wilayah Teluk, Teluk Oman, dan Laut Arab Utara karena tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran.

Perusahaan pelayaran raksasa seperti Hapag-Lloyd telah menangguhkan seluruh transit melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Demikian pula, CMA CGM menginstruksikan kapal-kapal yang berada di atau menuju Teluk untuk segera mencari perlindungan. Raksasa pelayaran Denmark, Maersk, juga menghentikan semua pelayaran kapal melalui Selat Hormuz. Kementerian Perhubungan Yunani turut menyarankan kapal-kapal untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.

Misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, melaporkan adanya transmisi radio dari IRGC yang menyatakan dengan tegas, “Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.” Seorang eksekutif senior dari salah satu meja perdagangan utama dunia mengungkapkan kekhawatirannya, “Kapal-kapal kami akan tetap bertahan di posisi saat ini untuk beberapa hari ke depan.” Citra satelit juga menunjukkan tumpukan kapal tanker yang tertahan di dekat pelabuhan-pelabuhan besar, seperti Fujairah di Uni Emirat Arab, dan tidak melakukan pergerakan menuju selat vital tersebut.

Urat Nadi Energi Global Terancam

Selat Hormuz adalah jalur air krusial yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global. Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait sangat bergantung pada jalur ini. Terlebih lagi, Qatar, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai konsumen di Asia dan Eropa. Para analis energi memperingatkan bahwa praktis tidak ada jalur alternatif yang layak untuk pengiriman LNG.

Leslie Palti-Guzman, pendiri perusahaan penasihat energi dan perkapalan Energy Vista, menyatakan, “Kita berada di wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia menambahkan bahwa pengiriman LNG akan terus mengalami gangguan dan para pedagang perlu bersiap menghadapi penundaan sementara. Tom Marzec-Manser, Direktur LNG dan Gas di Wood Mackenzie, juga menegaskan, “Aktivitas militer apa pun di selat tersebut dapat menyebabkan harga energi meroket.”

Dampak Ekonomi Global dan Indonesia

Gangguan di Selat Hormuz ini mengancam stabilitas pasokan energi global dan diprediksi akan memicu lonjakan harga yang signifikan. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan bahwa penghentian aktivitas pengiriman LNG selama sebulan dapat menyebabkan lonjakan harga LNG di Asia sebesar 130 persen, mencapai US$25 per juta British thermal units. mentah Brent juga diperkirakan dapat menembus US$90-100 per barel atau lebih tinggi lagi. Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih, menyebut situasi ini “serius” bagi pasar energi global.

Krisis ini berpotensi memicu inflasi global dan krisis energi di berbagai belahan dunia. Biaya asuransi kapal dan ongkos pengiriman diperkirakan akan melonjak tajam. Bagi Indonesia, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan bahwa dampak rambatan konflik ini dapat menekan kinerja ekspor impor dan memperlebar defisit sektor migas. “Bahkan gangguan sebagian saja sudah cukup memicu pengalihan rute, pengetatan kapasitas kapal, dan kenaikan ongkos logistik yang pada akhirnya merembet ke harga impor bahan baku maupun barang konsumsi,” jelas Josua Pardede.

Selain jalur laut, ruang udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, dan Bahrain juga hampir sepenuhnya kosong, menyebabkan pembatalan penerbangan dan gangguan pada transportasi udara internasional. Situasi ini mengingatkan pada dampak masif invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, yang juga mengguncang pasar gas global. Dunia kini menanti langkah diplomasi internasional untuk mencegah kelumpuhan total pada distribusi energi global yang dapat memicu krisis ekonomi yang lebih luas.