Rabat – Pemain Aljazair, Mohammed Amoura, menuai kecaman keras setelah melakukan selebrasi yang dianggap menghina penggemar Republik Demokratik Kongo. Aksi tersebut terjadi usai Aljazair memastikan kemenangan 1-0 atas Kongo dalam laga perempat final Piala Afrika 2025 di Moulay Hassan Stadium, Selasa (6/1/2026).
Gol Tunggal dan Selebrasi Kontroversial
Adil Boulbina menjadi pahlawan Aljazair dengan mencetak gol tunggal pada menit ke-119. Namun, sorotan utama pasca-pertandingan justru tertuju pada rekan setimnya, Mohammed Amoura. Striker VfL Wolfsburg itu terekam kamera berlari ke arah tribun penonton Kongo dan meniru gaya Michel Nkuka Mboladinga, seorang penggemar Kongo yang viral karena berpose layaknya patung pahlawan bangsa Afrika, Patrice Lumumba.
Amoura kemudian menjatuhkan diri dan bergaya santai di hadapan Mboladinga, sebuah aksi yang dengan cepat memicu kemarahan dan kecaman di media sosial.
Kecaman Meluas
Aksi Amoura dianggap tidak hanya melecehkan Mboladinga, tetapi juga sosok Patrice Lumumba, yang ditiru oleh penggemar tersebut. Kecaman datang dari berbagai pihak, tidak hanya dari Kongo, tetapi juga dari publik Aljazair sendiri. Banyak yang menilai Amoura tidak memahami sejarah Afrika, bahkan sejarah negaranya.
Patrice Lumumba adalah tokoh anti-kolonialisme Afrika yang menjabat sebagai perdana menteri pertama Kongo. Pemikirannya membakar semangat nasionalisme bangsa-bangsa Afrika, termasuk Aljazair yang meraih kemerdekaan pada tahun 1962, setahun setelah Lumumba dibunuh.
Sebuah unggahan dari akun @MenInBlazers di Twitter pada 6 Januari 2026 menyoroti insiden tersebut, “Algerian striker Mohammed Amoura mocked Congo DR’s “statue” fan Lumumba after a 119th-minute winner knocked The Leopards out of AFCON 👀 pic.twitter.com/1ltpY3d2AH”.
Permintaan Maaf Amoura
Menyadari kesalahannya, Mohammed Amoura akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial. Ia mengaku menyesal atas selebrasi tersebut karena tidak memahami makna dan sejarah perjuangan Lumumba yang diangkat kembali oleh Mboladinga selama Piala Afrika 2025.
“Aku hanya ingin menegaskan: Saat itu saya tak paham siapa sosok atau apa simbol yang direpresentasikan. Aku cuma mau menggoda mereka, dengan cara halus, tanpa ada maksud atau keinginan untuk memprovokasi,” tulis Mohammed Amoura melalui Insta Story pada Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan, “Jika sikap aku disalahpahami, aku benar-benar menyesal karena itu jelas bukan tujuan aku sejak awal.”
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pemahaman sejarah dan sensitivitas budaya dalam setiap tindakan, terutama di panggung internasional seperti Piala Afrika.






