Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026, kembali membawa berkah dan semarak di berbagai sudut ibu kota. Salah satu tradisi yang tak pernah lekang oleh waktu adalah perburuan takjil menjelang waktu berbuka puasa. Di antara berbagai sentra kuliner musiman, Pasar Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat tetap menjadi magnet utama yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal dengan omzet fantastis bagi para pedagang.
Antusiasme Warga di Sentra Takjil Legendaris
Sejak puluhan tahun lalu, tepatnya mulai medio 1985, Pasar Takjil Benhil telah menjadi ikon Ramadan di Jakarta. Setiap sore, terutama mulai pukul 14.00 atau 15.00 WIB, kawasan ini langsung dipadati ribuan warga dari berbagai penjuru ibu kota, mulai dari penduduk setempat hingga pekerja kantoran di area Sudirman. Mereka berbondong-bondong mencari hidangan pembuka puasa, menciptakan suasana ngabuburit yang khas dan penuh kebersamaan. Keramaian ini terus memuncak hingga menjelang azan Magrib.
Salah seorang pengunjung setia, Jessica, mengungkapkan alasannya selalu kembali ke Benhil. “Ini jadi lokasi favorit saya sih, pilihannya banyak, harganya terjangkau,” ujarnya saat berbincang di lokasi pada Senin, 23 Februari 2026. Pengunjung lain, Johari (59), yang juga rutin berburu takjil di sini, mengakui keramaian yang luar biasa. “Pengunjungnya rame banget. Ini baru belum begitu rame lho. Entar hari kedua, hari ketiga (rame),” kata Johari pada Kamis, 19 Februari 2026, hari pertama puasa.
Ragam Kuliner Menggugah Selera dengan Harga Terjangkau
Pasar Takjil Benhil menawarkan parade kuliner yang sangat beragam, memenuhi segala selera pemburu takjil. Mulai dari jajanan tradisional hingga hidangan kekinian, semua tersedia di sekitar 50 lapak yang berjajar rapi di bawah tenda, tepat di depan Polsubsektor Benhil.
Pilihan makanan manis meliputi aneka bubur seperti bubur sumsum, bubur kacang hijau, bubur mutiara putih, hingga bubur kampiun. Tak ketinggalan, ada kolak, es buah, es campur, kue-kue basah seperti lupis, klepon, bugis, talam ketan, dan bomboloni dengan berbagai rasa. Untuk hidangan gurih, tersedia aneka gorengan, lontong, dimsum, pempek, siomay, batagor, hingga masakan Padang, nasi uduk, sate, ayam panggang, dan nasi lemang. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, dimulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000 per buah untuk makanan ringan, sementara bubur sumsum dibanderol Rp15.000-Rp20.000 per porsi, dan hidangan berat berkisar Rp20.000-Rp60.000.
Omzet Pedagang Melejit Hingga Belasan Juta Rupiah
Keramaian Pasar Takjil Benhil menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang. Perputaran ekonomi di sektor takjil ini mencatat lonjakan transaksi yang signifikan setiap sore. Salah satu lapak yang paling diserbu adalah ‘Istana Bubur’ milik Mila, yang telah berjualan sejak 2019. Dengan menjual bubur Madura asli seharga Rp25.000 per porsi, Mila mampu menjual hingga 700 porsi dalam sehari. “Pendapatan bisa Rp15 juta per hari, bahkan tahun lalu pun kurang lebih hampir segini,” ungkap penjual tersebut pada Kamis, 26 Februari 2026. Bahkan, omzet kotor lapak bubur ini bisa tembus Rp20 juta sehari, terutama di 20 hari awal Ramadan.
Pedagang lain juga merasakan hal serupa. Penjual bomboloni, Mas Al, mengaku omzetnya mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari. Sementara itu, pedagang gorengan juga kebanjiran pembeli dengan omzet sekitar Rp2 jutaan di hari pertama Ramadan. Joni, penjual pempek ikan tenggiri, menyatakan bahwa Bazar Benhil selalu menjadi momen yang paling ditunggu setiap Ramadan. “Alhamdulillah, omzetnya jauh lebih ramai di sini karena ini bazar tahunan,” ujarnya pada Kamis, 19 Februari 2026. Peningkatan penjualan ini menunjukkan potensi ekonomi musiman yang besar dan berulang setiap tahunnya.
Pasar Takjil Benhil bukan sekadar tempat berburu makanan, melainkan sebuah tradisi yang merangkum semangat kebersamaan dan berkah Ramadan. Dengan pilihan kuliner yang melimpah, harga yang ramah di kantong, serta suasana yang selalu hidup, Benhil terus menjadi destinasi favorit yang dirindukan warga Jakarta setiap tahunnya.