Sentimen Risk-Off Bayangi Pasar Global, Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi Jadi Penentu Arah

sentimen risk-off, konflik timur tengah, data ekonomi as, data ekonomi asia, ihsg

Pekan pertama Maret 2026 dibuka dengan kekhawatiran yang meluas di pasar keuangan global, menyusul eskalasi konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Situasi geopolitik yang memanas ini secara signifikan memicu sentimen risk-off, mendorong investor untuk memburu aset-aset yang dianggap aman atau safe haven seperti emas dan dolar AS.

Dampak langsung dari ketegangan ini terlihat pada lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,78% menjadi US$67,02 per barel, sementara Brent menguat ke US$72,48 per barel, setelah sempat melonjak 12,54% ke US$81,57 per barel pada pembukaan pasar. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan energi global, terutama mengingat Selat Hormuz, jalur logistik minyak dan gas krusial, berada di bawah kendali Iran. Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, bahkan menilai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dapat meningkatkan ketidakpastian dan tidak dapat dipastikan bagaimana akhir konflik ini.

Di tengah kondisi ini, aset-aset di pasar Asia menunjukkan pelemahan. Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei 225 Jepang merosot 1,37% dan ASX 200 Australia turun 0,38%. Rupiah offshore juga tertekan 0,24% dan menyusut di level Rp16.843 per dolar AS pada pagi hari ini. Sebelumnya, pada 24 Februari 2026, nilai tukar rupiah telah melemah 27 poin atau 0,16% menjadi Rp16.829 per dolar AS. Analis mata uang Taufan Dimas Hareva menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi akibat ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.

Fokus Pasar Tertuju pada Data Ekonomi AS dan Asia

Selain dinamika geopolitik, pasar juga sangat menantikan rilis serangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan Asia yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter dan sentimen investor. Dari AS, fokus utama pekan ini adalah laporan ketenagakerjaan (Nonfarm Payrolls, ADP Employment Change, Unemployment Rate), data manufaktur (ISM Manufacturing, ISM Non-Manufacturing), penjualan ritel, dan Indeks Harga Produsen (PPI).

Data PPI AS yang dirilis lebih tinggi dari ekspektasi pada akhir Februari lalu telah memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya terkendali. Hal ini memperbesar kemungkinan Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. CME FedWatch Tool bahkan melaporkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret 2026 meningkat menjadi 94%. Pertemuan FOMC pada 18-19 Maret akan menjadi titik pusat perhatian, di mana pasar akan mencermati proyeksi terbaru, pernyataan kebijakan, dan panduan dari Ketua The Fed.

Di kawasan Asia, Kongres Rakyat Nasional (NPC) China yang dimulai 5 Maret akan mengumumkan Rencana Lima Tahun 2026–2030 yang baru. Sementara itu, rilis data PMI Februari China kemungkinan akan menunjukkan pelemahan, terutama mencerminkan penutupan aktivitas selama libur Imlek. Data ekonomi Jepang juga menunjukkan perlambatan inflasi dan produksi industri yang lemah, mempersulit langkah normalisasi kebijakan oleh bank sentral Jepang.

IHSG dan Inflasi Domestik di Tengah Ketidakpastian

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan () berpotensi tertekan pada Maret 2026. Secara historis, IHSG rata-rata melemah 1,97% pada bulan Maret selama sembilan tahun terakhir. IHSG ditutup stagnan di level 8.235,48 pada akhir perdagangan Februari 2026, namun sepanjang tahun berjalan 2026, IHSG sudah terkoreksi 4,76% dengan net sell sebesar Rp9,51 triliun. Sentimen negatif juga datang dari peringatan S&P Global Ratings mengenai meningkatnya tekanan fiskal Indonesia, khususnya biaya pembayaran utang yang lebih tinggi.

Bank Indonesia (BI) sendiri telah mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75% pada Januari dan Februari 2026, konsisten dengan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi 2,5% plus minus 1% untuk tahun 2026-2027. Namun, BI mewaspadai lonjakan inflasi kelompok volatile food atau inflasi pangan yang diproyeksikan dapat berlanjut hingga Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh dampak cuaca ekstrem terhadap harga pangan, serta permintaan musiman selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Februari 2026 pada hari ini, 2 Maret 2026. Ekonom memperkirakan inflasi bulanan akan berada di kisaran 0,1% hingga 0,2% secara month-to-month, sementara inflasi tahunan diproyeksikan mencapai 4% hingga 4,3% secara year-on-year. Angka inflasi tahunan yang lebih tinggi ini sebagian besar dikarenakan low-base effect dari diskon tarif listrik yang diberikan secara masif pada periode yang sama tahun lalu.

Di tengah ketidakpastian global, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai konflik saat ini mendukung peningkatan premi harga emas dan valuasi saham perusahaan minyak. Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyarankan investor untuk mencermati saham berbasis energi dan logam dasar sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.