Situasi di Asia Barat memanas tajam menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Operasi militer bersandi “Operation Lion’s Roar” oleh Israel dan “Operation Epic Fury” oleh Amerika Serikat ini menargetkan berbagai situs penting di Iran, termasuk pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan struktur kepemimpinan di Teheran.
Puncak dari serangan tersebut adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kediamannya di Teheran. Selain Khamenei, beberapa pejabat tinggi dan komandan militer Iran, termasuk Laksamana Muda Shamkhani dan Mayor Jenderal Pakpour, juga dilaporkan tewas. Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi ini bertujuan untuk mengganti rezim dan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Respons Iran dan Dampak Kemanusiaan
Iran segera melancarkan serangan balasan besar-besaran menggunakan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS di Timur Tengah, serta negara-negara sekutu di Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Serangan balasan ini menyebabkan sedikitnya sembilan warga sipil tewas dan 450 lainnya luka-luka di Tel Aviv, Israel. Bandara dan fasilitas umum di negara-negara Teluk juga mengalami kerusakan. Pentagon mengonfirmasi tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya luka serius akibat serangan balasan Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran gelombang kesembilan “Operasi True Promise 4” yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di kawasan. IRGC juga mengklaim telah menghancurkan sistem pertahanan rudal THAAD di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.
Di Iran, serangan gabungan AS-Israel menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai 700 lainnya. Sebuah insiden tragis terjadi di Minab, Iran, di mana sebuah sekolah dasar putri terkena serangan, mengakibatkan puluhan hingga ratusan korban jiwa dan luka-luka di kalangan siswa.
Kekhawatiran Global dan Lonjakan Harga Minyak
Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran mendalam di seluruh dunia, terutama terkait stabilitas ekonomi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 13% pada pembukaan perdagangan Asia, mencapai $82,0 per barel, dan kemudian menyentuh $80 per barel setelah insiden di fasilitas minyak Saudi. Perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, menghentikan sementara operasional kilang minyak Ras Tanura, kilang terbesar di Timur Tengah, serta terminal LPG Juaymah, menyusul serangan drone. Gangguan ini semakin menekan pasokan minyak dan gas global.
Iran juga mengancam menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi arteri bagi sekitar 20-25% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Potensi penutupan ini memicu spekulasi harga minyak dapat melampaui $100 per barel dan meningkatkan risiko resesi global.
Dampak ekonomi juga terasa di Indonesia. Nilai tukar rupiah melemah di kisaran Rp16.835 per dolar AS, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi. Pemerintah Indonesia mewaspadai gangguan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan potensi inflasi. Sementara itu, harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.
Seruan Diplomasi dan Reaksi Internasional
Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan “keprihatinan mendalam” atas situasi yang memburuk dan menyerukan “de-eskalasi segera, dialog, dan diplomasi” sebagai jalan ke depan. Pernyataan ini disampaikan Modi dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kementerian Luar Negeri India juga mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati kedaulatan serta integritas teritorial semua negara. Kunjungan Modi ke Israel pada akhir Februari 2026 sebelumnya sempat menuai kritik dari oposisi India terkait waktu pelaksanaannya.
Rusia dan Tiongkok mengecam serangan AS-Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB, mendesak semua pihak kembali ke jalur diplomasi. Rusia bahkan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi solusi diplomatik. Uni Eropa memperingatkan potensi perang berkepanjangan di Timur Tengah dan mendesak Iran untuk menghindari pembalasan tanpa pandang bulu. Uni Eropa juga menarik staf non-esensial dari kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) serta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memprioritaskan keselamatan 58.873 jemaah umrah Indonesia di Arab Saudi dan mengimbau warga negara Indonesia untuk menunda perjalanan ke Timur Tengah. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog guna mengembalikan kondisi keamanan yang kondusif. Tawaran mediasi ini disambut baik oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut dan memperingatkan kemungkinan jatuhnya lebih banyak korban jiwa dari pihak AS. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membingkai serangan tersebut sebagai langkah “pencegahan” yang sah untuk menghilangkan ancaman nuklir Iran dan membantu rakyat Iran. Netanyahu juga mengemukakan visi pembentukan “aliansi segi enam” baru dengan India untuk membendung kekuatan “radikal” di Timur Tengah.