Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Aksi ini segera dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone, memicu kekacauan luas pada sektor penerbangan global, termasuk rute dari Indonesia.
Data analitik penerbangan Cirium menunjukkan sekitar 3.200 jadwal penerbangan dari berbagai maskapai global terpaksa dibatalkan. Sebanyak 1.800 penerbangan dibatalkan pada Sabtu, 28 Februari, dan 1.400 penerbangan tambahan pada Minggu, 1 Maret 2026. Penutupan wilayah udara di setidaknya delapan negara Timur Tengah, meliputi Iran, Irak, Israel, Suriah (sebagian), Kuwait, Bahrain, Yordania, Qatar, dan Uni Emirat Arab, menjadi penyebab utama gangguan masif ini.
Dampak langsung terasa hingga ke Indonesia. PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Kantor Cabang Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, mengonfirmasi adanya pembatalan dan penundaan sejumlah penerbangan menuju Timur Tengah. Beberapa penerbangan yang terdampak antara lain Etihad Airways (EY472, EY475, EY473) tujuan Abu Dhabi, Qatar Airways (QR954, QR957) tujuan Doha, Emirates (EK357) tujuan Dubai, serta Garuda Indonesia (GA900) tujuan Doha.
Pgs Asst Deputy Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Aziz Fahmi Harahap, menyatakan bahwa pihak bandara telah melakukan penanganan sesuai prosedur, termasuk proses pembatalan dokumen perjalanan di area imigrasi dan koordinasi dengan maskapai untuk akomodasi serta penjadwalan ulang. Situasi di terminal Bandara Soetta secara umum tetap aman dan kondusif.
Kekacauan juga melanda bandara-bandara utama di Timur Tengah. Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Bandara Internasional Al Maktoum (DWC) menghentikan seluruh operasi penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan, dengan lebih dari 700 penerbangan masuk dan keluar dibatalkan. Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar, juga mengalami kekacauan serupa. Maskapai besar seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, Turkish Airlines, Air India, Air France, Lufthansa, British Airways, dan Wizz Air telah mengumumkan pembatalan, pengalihan, atau penangguhan layanan mereka.
Ribuan jemaah umrah asal Indonesia yang sedang berada di Arab Saudi turut merasakan dampaknya, dengan banyak yang masih menunggu kepastian jadwal kepulangan akibat penghentian sementara operasional penerbangan. Kota Doha dan Dubai merupakan simpul penerbangan internasional penting bagi jemaah Indonesia.
Eskalasi konflik ini dimulai dengan serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas militer serta infrastruktur strategis Iran di sekitar Teheran pada Sabtu dini hari. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Laporan menyebutkan satu orang tewas di Abu Dhabi dan tujuh lainnya terluka akibat serangan drone. Kerusakan juga terjadi pada satu concourse di Bandara Internasional Dubai, Hotel Burj Al Arab, Pelabuhan Jebel Ali, dan beberapa gedung di Palm Jumeirah.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyerukan de-eskalasi dan penghentian segera semua permusuhan, memperingatkan bahwa tindakan militer berisiko memicu rangkaian peristiwa yang tak terkendali di wilayah paling rawan di dunia. Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas regional tetapi juga memicu lonjakan harga minyak dunia dan emas, serta berpotensi memperlemah mata uang global.