Pasar aset kripto global mengalami gejolak signifikan pada akhir pekan lalu, menyusul dimulainya operasi militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 27-28 Februari 2026. Peristiwa ini memicu penurunan tajam pada harga Bitcoin dan aset kripto lainnya, sementara di sisi lain, harga minyak mentah global melonjak drastis di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya operasi tempur utama ini, yang menargetkan infrastruktur rudal, angkatan laut, dan fasilitas nuklir Iran. Serangan udara dilaporkan menghantam beberapa kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal balasan ke Israel dan aset militer AS di Timur Tengah, sementara Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan keadaan darurat di seluruh negeri. Laporan juga mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan awal.
Bitcoin Terjun Bebas, Pasar Kripto Kehilangan Miliaran Dolar
Dampak langsung dari eskalasi konflik ini terasa kuat di pasar kripto. Bitcoin (BTC) dan mata uang kripto utama lainnya mengalami penurunan harga yang tajam pada Sabtu, 28 Februari 2026. Bitcoin sempat anjlok hingga 3,8% mencapai level $63.038, sebelum kemudian stabil di kisaran $64.000 hingga $64.156. Beberapa laporan bahkan menyebutkan Bitcoin anjlok 6,4% ke $63.539,29.
Dalam hitungan jam, kapitalisasi pasar total kripto menyusut sekitar $128 miliar. Ethereum (ETH) juga tidak luput dari dampak, turun 4,5% menjadi $1.835 atau 5% menjadi $1.867, sementara XRP, Solana, dan altcoin lainnya juga mencatat penurunan signifikan. Meskipun sempat terjadi pemulihan singkat di mana Bitcoin melonjak hingga $68.196 setelah berita kematian Khamenei, reli tersebut dengan cepat mereda seiring meningkatnya ketidakpastian.
Para analis sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Iran kemungkinan besar akan menyebabkan penurunan harga kripto. Pergerakan pasar ini menunjukkan sentimen ‘risk-off’ yang kuat, di mana investor cenderung melikuidasi aset berisiko. Narasi Bitcoin sebagai ‘emas digital’ atau aset safe haven dipertanyakan, karena aset ini justru bergerak seperti aset makro berisiko tinggi.
Pada Senin pagi, 2 Maret 2026, Bitcoin diperdagangkan di sekitar $66.800, naik 2,6% dalam 24 jam terakhir, sementara Ethereum di $2.000 (+4,8%) dan Solana di $84,41 (+10,8%), menunjukkan sedikit pemulihan setelah gejolak akhir pekan. Area $60.000-$62.000 dipandang sebagai dukungan struktural penting bagi Bitcoin, dengan $72.000-$75.000 sebagai level resistensi kunci.
Harga Minyak Melonjak Tajam, Kekhawatiran Selat Hormuz Meningkat
Berbeda dengan kripto, harga minyak mentah global merespons konflik dengan lonjakan tajam. Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak di atas $70 per barel. Pada Minggu malam, WTI diperdagangkan sekitar $72 per barel, naik sekitar 8% dari harga penutupan Jumat sebelumnya yang sekitar $67. Sementara itu, Brent crude melonjak lebih dari 12% menjadi $82 sebelum stabil di dekat $80 pada awal perdagangan 2 Maret 2026.
Kenaikan harga ini didorong oleh kekhawatiran serius akan gangguan pasokan minyak global, terutama melalui Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 15-20% pasokan minyak dunia, atau sekitar 13-15 juta barel per hari. Iran sendiri sebelumnya sempat menutup sebagian selat ini untuk latihan militer pada pertengahan Februari, yang menyebabkan harga minyak melonjak 6%.
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak dapat mencapai $100 per barel jika konflik terus berlanjut. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+), termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, mengumumkan akan meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada April mendatang. Namun, kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga.
Korelasi Pasar dan Prospek ke Depan
Eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi ‘kisah Bitcoin’ jika terlebih dahulu menjadi ‘kisah minyak’, terutama melalui dampak pada Selat Hormuz. Pergerakan awal Bitcoin cenderung bersifat ‘risk-off’, yang berarti harga akan turun. Namun, jika gangguan energi hanya bersifat sementara, Bitcoin berpotensi stabil kembali.
Secara historis, Bitcoin telah diperdagangkan sebagai aset likuiditas beta tinggi selama siklus pengetatan moneter. Kenaikan harga minyak yang memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dapat berdampak negatif pada aset seperti Bitcoin, karena bank sentral mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan mengetatkan kebijakan moneter lebih lanjut.
Reaksi pasar yang terukur dan teknis, alih-alih sistemik, menunjukkan bahwa Bitcoin merespons ketidakpastian global, namun utamanya didorong oleh dinamika likuiditas dan posisi, bukan aliran safe haven. Uji coba sesungguhnya bagi pasar akan terjadi saat pasar tradisional kembali dibuka pada Senin ini.