Serangan Balasan Iran Guncang Dubai, Bandara Lumpuh Total di Tengah Peringatan Perang Regional Khamenei

Kota metropolitan , yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan dan pariwisata yang aman di , kini merasakan langsung dampak dari eskalasi konflik regional. Serangkaian ledakan keras dilaporkan terjadi di Dubai dan Abu Dhabi pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di sejumlah negara Teluk. Insiden ini menyebabkan lumpuhnya operasional bandara utama dan menimbulkan korban jiwa, sekaligus menyoroti peringatan berulang dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah , mengenai potensi perang regional yang lebih luas.

Eskalasi Konflik dan Serangan Balasan Iran

Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya pada akhir Februari 2026 setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran, termasuk Teheran. Serangan ini disebut-sebut sebagai respons terhadap dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran, sebagaimana disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump. Tidak tinggal diam, Iran segera melancarkan serangan balasan yang menargetkan aset-aset militer AS di beberapa negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.

Di Uni Emirat Arab, proyektil terlihat di langit Abu Dhabi, sementara penduduk Dubai melaporkan mendengar ledakan sepanjang hari. Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Bandara Internasional Al Maktoum (DWC) terpaksa menangguhkan seluruh operasional penerbangan. Bahkan, satu concourse di Bandara Internasional Dubai dilaporkan mengalami kerusakan ringan, melukai empat staf. Sementara itu, di Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi, satu orang warga negara Asia tewas dan tujuh lainnya terluka akibat puing-puing yang berjatuhan setelah rudal Iran berhasil dicegat.

Dampak pada Citra Keamanan dan Ekonomi

Insiden ini secara signifikan merusak citra Dubai dan Abu Dhabi sebagai pusat keuangan global yang dibangun di atas fondasi keamanan dan stabilitas. Maskapai-maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, dan Wizz Air membatalkan atau menangguhkan penerbangan mereka, menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar dan mengganggu lalu lintas udara internasional. Kedutaan Besar Vietnam di kawasan Teluk bahkan mengeluarkan pemberitahuan mendesak yang menyarankan warganya untuk membatasi perjalanan yang tidak perlu dan menghindari lokasi-lokasi sensitif.

Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 2,7 persen pada tahun 2026, lebih rendah dari rata-rata pra-pandemi. Konflik yang memanas ini juga mengancam pasokan minyak global, terutama jika Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk sepertiga pasokan minyak dunia, terganggu.

Peringatan Khamenei dan Peran Iran

Jauh sebelum eskalasi terbaru, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah berulang kali memperingatkan konsekuensi serius jika AS menyerang negaranya. Pada awal Februari 2026, Khamenei menegaskan, “Amerika Serikat harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini bisa menjadi perang regional.” Pernyataan serupa juga ia sampaikan pada 1 Februari 2026, menekankan bahwa Iran tidak akan memulai perang, tetapi akan memberikan respons keras jika diserang.

Peran Iran dalam konflik regional juga terlihat dari pergerakan sekutunya. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengumumkan rencana untuk melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan menargetkan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran. AS sendiri memiliki kehadiran militer yang signifikan di Timur Tengah, dengan 40.000 hingga 50.000 personel di 19 lokasi, termasuk di negara-negara Teluk yang kini menjadi sasaran balasan Iran.

Upaya Mediasi dan Dinamika Regional

Menyikapi situasi yang kian memanas, Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk bertolak ke Teheran guna memediasi konflik antara Iran, AS, dan Israel, jika disetujui oleh semua pihak. Sementara itu, dinamika internal di kawasan juga menunjukkan keretakan, seperti perselisihan antara Arab Saudi dan UEA terkait konflik di Yaman, meskipun UEA telah mengumumkan pengakhiran kehadiran militernya di Yaman pada akhir 2025.

Eskalasi ini menjadi pengingat pahit bahwa kemewahan dan kemajuan ekonomi di pusat-pusat seperti Dubai tidak sepenuhnya terisolasi dari gejolak geopolitik yang mendera wilayah Timur Tengah.