Serangan Balasan Iran Landa UEA, Bandara Dubai Rusak dan Ribuan Penerbangan Lumpuh

iran, dubai, bandara dubai, timur tengah, konflik iran israel

Ketegangan di mencapai puncaknya pada Minggu (1/3/2026) setelah serangan balasan masif dari menghantam Uni Emirat Arab (UEA), menyebabkan Bandara Internasional (DXB) mengalami kerusakan dan melumpuhkan ribuan penerbangan di seluruh kawasan. Insiden ini merupakan respons Teheran terhadap serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel ke Iran sehari sebelumnya.

Kantor Media Dubai mengonfirmasi bahwa salah satu concourse di Bandara Internasional Dubai mengalami kerusakan ringan. Empat staf bandara dilaporkan terluka dan segera mendapatkan perawatan medis. Otoritas bandara menyatakan situasi berhasil dikendalikan dengan cepat berkat protokol evakuasi yang telah dijalankan sebelumnya, yang memungkinkan sebagian besar terminal dikosongkan dari penumpang. Selain Dubai, Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi juga terdampak, dengan laporan satu warga negara Asia tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan drone. Beberapa laporan juga menyebutkan Hotel Burj Al Arab turut terdampak serangan.

Dampak terhadap lalu lintas udara sangat parah, dengan lebih dari 2.300 pembatalan penerbangan tercatat dari Bahrain hingga Tel Aviv dalam 24 jam terakhir. Data FlightAware menunjukkan lebih dari 90% keberangkatan dari Bandara Internasional Dubai dibatalkan, menjadikannya gangguan terparah dalam beberapa dekade terakhir. Operasional di Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Bandara Internasional Al Maktoum (DWC) ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut, dan penumpang diimbau untuk tidak datang ke bandara.

Maskapai-maskapai besar dunia, termasuk Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, Air France, Lufthansa, British Airways, Turkish Airlines, Air India, Virgin Atlantic, dan Wizz Air, terpaksa membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan mereka. Emirates memperpanjang pembatalan penerbangan hingga Minggu pagi pukul 03.00 waktu setempat, sementara Qatar Airways menangguhkan operasional hingga tengah malam, dan Etihad Airways hingga Minggu siang. Penutupan wilayah udara diberlakukan di Iran, Irak, Yordania, Israel, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman sebagai langkah pencegahan keamanan.

Eskalasi konflik ini bermula dari serangan militer terkoordinasi yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) dini hari, yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone tempur ke pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi gelombang serangan masif yang melibatkan 137 rudal dan 209 drone dari Iran. Seorang pejabat senior Iran kepada Al Jazeera menegaskan, “Semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah telah menjadi target yang sah. Tidak ada garis merah setelah agresi ini, dan semuanya mungkin terjadi.”

Berbagai pemimpin dunia menyerukan deeskalasi. Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, mendesak semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan menghormati hukum internasional. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan solidaritas dengan warga sipil Iran, sementara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendukung rakyat Iran yang berjuang melawan penindasan. Rusia menganggap serangan AS dan Israel sebagai tindakan ceroboh yang melanggar hukum internasional, sementara Inggris tidak menginginkan konflik meluas.

Pemerintah Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog dan mediasi guna meredam ketegangan. Kementerian Luar Negeri RI juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan diplomasi, serta mengimbau WNI di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan waspada. Arab Saudi mengecam keras agresi Iran dan menyerukan masyarakat internasional untuk mengambil langkah tegas menjaga stabilitas regional. Sementara itu, Tiongkok mendesak penghentian segera serangan AS-Israel ke Iran.

Gangguan penerbangan ini diperkirakan akan memicu kerugian signifikan bagi maskapai dan sektor pariwisata. Rute penerbangan yang lebih panjang, biaya bahan bakar yang lebih tinggi, dan penumpukan penumpang akan menjadi tantangan besar. Pengamat pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, menyoroti bahwa sektor penerbangan dan ekosistem bandara adalah pihak yang paling cepat terdampak, dengan kerugian langsung pada pendapatan dan peningkatan biaya operasional.