Serangan Balasan Iran Picu Krisis Energi Global, Kilang Aramco Ras Tanura Lumpuh

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Iran melancarkan serangkaian serangan balasan yang luas, menyasar berbagai target strategis di kawasan. Puncaknya, pada Senin, 2 Maret 2026, kilang minyak Ras Tanura milik raksasa energi Saudi Aramco dilaporkan lumpuh akibat serangan pesawat nirawak, memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi dunia.

Insiden ini terjadi menyusul operasi militer gabungan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan instalasi militer, fasilitas nuklir, dan gedung pemerintahan di Iran, termasuk di Teheran, Isfahan, dan Tabriz, yang disebut sebagai upaya menggagalkan program nuklir Teheran setelah perundingan di Jenewa menemui jalan buntu. Laporan juga menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.

Respons Agresif Iran dan Dampak Regional

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran segera mengumumkan operasi balasan bertajuk “Truthful Promise 4”, meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke-9 terhadap target-target AS dan Israel di Timur Tengah. Serangan Iran menyasar pangkalan militer AS di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Kuwait. Selain itu, pangkalan militer Israel seperti Pangkalan Udara Tel Nof dan markas komando tentara Israel di HaKirya, Tel Aviv, juga menjadi target.

IRGC bahkan mengklaim telah menghantam kapal induk AS USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik di kawasan Teluk dan menembak jatuh 22 drone canggih jenis Hermes yang diduga milik AS dan Israel. Serangan juga dilaporkan menghantam Riyadh dan Provinsi Timur Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional Riyadh dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Otoritas Uni Emirat Arab melaporkan satu orang tewas dalam insiden di fasilitas bandara ibu kota negara. IRGC juga mengklaim berhasil menghancurkan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Al Dhannah, UEA.

Krisis Energi dan Selat Hormuz

Gangguan operasional di kilang Ras Tanura, salah satu pusat pengolahan minyak terbesar di dunia, segera memicu kepanikan di bursa komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam hingga menyentuh level 80 dolar AS per barel, menjadikannya harga tertinggi dalam empat tahun terakhir. Situasi ini diperparah oleh eskalasi konflik yang secara virtual telah melumpuhkan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz, jalur perairan vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah global setiap harinya, kini menghadapi gangguan serius. Meskipun Teheran belum secara resmi menyatakan penutupan total, para pemilik kapal tanker secara mandiri memutuskan untuk menghentikan sementara pelayaran demi menghindari risiko serangan di tengah konflik yang kian membara. Analis memperkirakan, jika konflik berlanjut dan Selat Hormuz ditutup, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 100-150 dolar AS per barel, memicu krisis energi global yang setara dengan guncangan tahun 1970-an.

Reaksi Internasional dan Dampak Ekonomi Global

Eskalasi konflik ini menuai beragam reaksi dari komunitas internasional. Arab Saudi dan Suriah mengecam serangan balasan Iran, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman serius terhadap stabilitas regional. Riyadh bahkan menyerukan komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas atas apa yang disebutnya sebagai agresi brutal.

Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok kompak mengecam agresi AS-Israel terhadap Iran, menyerukan penghentian segera permusuhan dan solusi politik-diplomatik. Mereka menilai tindakan AS-Israel melanggar hukum internasional dan Piagam PBB. Sementara itu, Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto menyerukan semua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi, serta menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mediator.

Dampak ekonomi global juga tak terhindarkan. Kontrak berjangka saham di Wall Street anjlok pada Minggu malam, 1 Maret 2026, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq 100 terkoreksi. Bagi Indonesia, sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak berpotensi memicu lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, bahkan Pertalite bisa menembus Rp 15.000-Rp 18.000 per liter. Pelemahan rupiah juga diperkirakan akan semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS, memicu inflasi barang impor dan menekan anggaran negara.

Sikap Tegas Iran dan Ancaman Perang Eksistensial

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kekuatan militer negaranya tetap utuh meskipun sejumlah komandan gugur dalam serangan awal. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, juga menyatakan Iran tidak akan membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat, mengkritik kebijakan Washington yang dianggapnya mengorbankan tentara Amerika demi kepentingan Israel. Garda Revolusi Iran menggambarkan konflik kali ini sebagai “perang eksistensial” dan menegaskan tidak akan ada kompromi hingga Iran menunjukkan kemampuannya mempertahankan martabat dan kemerdekaannya.