Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH) mengalami kelumpuhan operasional pada Minggu, 1 Maret 2026, menyusul serangan rudal dan drone balasan yang dilancarkan Iran ke Uni Emirat Arab (UEA). Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Teluk, menyebabkan ribuan turis dan penumpang internasional terlantar.
Serangan yang dimulai sejak Sabtu dini hari, 28 Februari 2026, merupakan respons Iran terhadap serangan militer gabungan AS dan Israel ke wilayahnya. Otoritas UEA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat sebagian besar dari 137 rudal dan 209 drone yang diluncurkan Iran. Namun, beberapa puing berhasil jatuh dan menimbulkan kerusakan.
Dampak Kerusakan dan Korban
Di Bandara Internasional Dubai, beberapa area terminal mengalami kerusakan ringan, dan empat staf dilaporkan terluka. Sementara itu, di Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi, satu orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka akibat puing rudal dan drone. Puing drone juga menyebabkan kerusakan kecil pada fasad Hotel Burj Al Arab dan Hotel Fairmont di Palm Jumeirah, Dubai, dilaporkan terkena serangan rudal. Pelabuhan Jebel Ali juga disebut mengalami kerusakan.
Ribuan Penerbangan Dibatalkan, Penumpang Terlantar
Akibat serangan dan penutupan ruang udara UEA serta negara-negara Teluk lainnya, seluruh operasi penerbangan di Dubai dan Abu Dhabi dihentikan sementara. Maskapai besar seperti Emirates, flydubai, dan Etihad Airways menunda atau membatalkan jadwal penerbangan. Data menunjukkan lebih dari 1.800 penerbangan dibatalkan oleh maskapai-maskapai besar Timur Tengah. FlightAware mencatat 492 penerbangan Emirates, 329 Flydubai, dan 212 Etihad dibatalkan per 28 Februari 2026. Sementara itu, Cirium melaporkan 716 dari 4.329 penerbangan menuju Timur Tengah pada 1 Maret juga dibatalkan.
Ribuan penumpang, termasuk warga negara Indonesia (WNI), dilaporkan terjebak di bandara-bandara Dubai dan Abu Dhabi. Seorang turis AS, Jaiveer Cheema, menceritakan pengalamannya terjebak berjam-jam di dalam pesawat Emirates tanpa makanan, kemudian di terminal yang kacau, sebelum akhirnya mendapatkan voucher hotel setelah hampir 20 jam menunggu. Otoritas bandara mengimbau penumpang untuk tidak datang ke bandara hingga situasi aman dan menghubungi maskapai masing-masing.
Respons Internasional dan Peringatan Perjalanan
Eskalasi konflik ini memicu penutupan atau pembatasan ruang udara di sejumlah negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, Irak, Yordania, Israel, dan Suriah. Banyak negara segera mengeluarkan peringatan perjalanan atau menasihati warganya untuk meninggalkan Iran dan wilayah Timur Tengah. Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Prancis, Australia, India, Inggris, Singapura, Siprus, Polandia, Serbia, Swedia, Brasil, Turki, dan Azerbaijan termasuk di antara negara-negara yang mengeluarkan peringatan tersebut. Federal Aviation Administration (FAA) AS juga mengeluarkan Notice to Air Missions (NOTAM) untuk maskapai penerbangan AS yang beroperasi di Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi, dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai telah menetapkan status siaga III dan memantau ketat situasi. KBRI Abu Dhabi juga menggelar pertemuan daring dengan masyarakat Indonesia di UEA untuk menjelaskan situasi terkini. Kementerian Perhubungan mencatat 20 dari 39 penerbangan rute Timur Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dibatalkan. PT Pertamina International Shipping (PIS) juga memastikan keselamatan 30 pekerja dan keluarga mereka di Dubai. Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah membentuk tim untuk mitigasi jemaah umrah yang terdampak.
Meskipun situasi di Abu Dhabi sempat memicu peringatan darurat, otoritas UEA kemudian menyatakan kondisi telah aman dan normal, namun tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. Kebijakan pembelajaran daring juga diterapkan bagi siswa dari tingkat SD hingga perguruan tinggi pada Senin, 2 Maret 2026, sebagai langkah antisipasi.