Serangan Israel di Teheran Dekat Kantor Khamenei, Hizbullah Tegaskan ‘Garis Merah’

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Sabtu (28/2/2026) setelah dilaporkan melancarkan serangan di ibu kota , Teheran. Insiden ini, yang menurut laporan terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah , disebut-sebut melibatkan partisipasi (AS) dan berpotensi memicu respons militer dari Hizbullah, kelompok sekutu Iran di Lebanon.

Hizbullah telah berulang kali menegaskan bahwa setiap serangan yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei atau upaya untuk menggulingkan rezim Iran akan menjadi “garis merah” yang akan memicu intervensi militernya. Meskipun demikian, kelompok tersebut menyatakan tidak akan terlibat secara militer jika serangan AS terhadap Iran bersifat terbatas.

Serangan hari ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, dengan Presiden AS Donald Trump mengancam tindakan militer besar jika perundingan nuklir gagal. Iran sendiri telah memperingatkan akan adanya balasan “habis-habisan” terhadap setiap serangan militer AS dan menyatakan bahwa konflik di masa depan akan lebih luas dari “perang 12 hari” pada Juni 2025.

Di sisi lain, Israel telah meningkatkan serangannya terhadap Hizbullah di Lebanon, meskipun ada perjanjian gencatan senjata November 2024 yang seharusnya mengakhiri konflik selama setahun. Israel juga telah mengirimkan pesan tidak langsung kepada Lebanon, memperingatkan bahwa infrastruktur sipil, termasuk bandara, akan menjadi sasaran jika Hizbullah terlibat dalam perang AS-Iran. Kabinet keamanan Israel bahkan telah mengadakan pertemuan pada 23 Februari 2026 untuk membahas potensi serangan AS terhadap Iran dan risiko konflik regional yang lebih luas.

Pemerintah Lebanon, melalui Perdana Menteri Nawaf Salam dan Menteri Luar Negeri Youssef Raggi, telah mendesak Hizbullah untuk tidak menyeret negara itu ke dalam konflik regional. Presiden Lebanon Joseph Aoun juga menegaskan bahwa keputusan perang dan damai sepenuhnya berada di tangan negara. Kekhawatiran ini diperkuat dengan evakuasi staf kedutaan AS dari Lebanon pada 24 Februari 2026, menyusul peningkatan ketegangan.

Meskipun dianggap melemah setelah lebih dari setahun konflik dengan Israel yang berakhir pada November 2024, Hizbullah tetap memiliki pengaruh politik yang signifikan di Lebanon. Kelompok ini merupakan sekutu utama Iran dan bagian dari “Poros Perlawanan” yang lebih luas di Timur Tengah. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem telah menyatakan loyalitas penuh kepada Iran, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap Iran adalah ancaman langsung bagi kelompoknya.

Perkembangan terbaru ini menempatkan kawasan di ambang eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan konsekuensi yang tidak terduga bagi stabilitas global.