Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan militer skala besar yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025. Operasi tersebut dilaporkan menargetkan program nuklir dan kemampuan rudal jarak jauh Iran, yang mengakibatkan tewasnya setidaknya enam ilmuwan nuklir terkemuka Teheran.
Di antara para korban tewas dalam serangan yang diklaim oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tersebut adalah Fereydoun Abbasi-Davani, mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran yang sebelumnya selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 2010. Ilmuwan lain yang dilaporkan tewas termasuk Mohammad Mehdi Tehranchi, seorang fisikawan teoretis, dan Ahmadreza Zolfaghari Daryani, seorang profesor fisika nuklir. Metro TV juga mengidentifikasi Abdulhamid Minouchehr, Seyyed Amirhossein Faqhi, dan Akbar Motallebzadeh sebagai korban tewas dalam insiden tersebut.
Pemerintah Iran segera menuding Israel dan Amerika Serikat (AS) berada di balik serangan mematikan ini, menyebutnya sebagai tindakan terorisme yang bertujuan menghambat kemajuan ilmiah dan teknologi nuklir Iran. Sebagai respons, Iran melancarkan “Operasi Janji Sejati 3” pada malam 13 Juni 2025, menargetkan sasaran militer di Israel. Beberapa hari kemudian, pada 23 Juni 2025, Iran juga melancarkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar, menyusul serangan AS terhadap tiga lokasi nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan pada 22 Juni 2025.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan pada 26 Juni 2025 bahwa Iran memiliki pengetahuan teknologi dan kapasitas industri untuk membangun kembali infrastruktur nuklirnya setelah serangan tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh citra satelit pada Oktober 2025 yang menunjukkan aktivitas konstruksi baru di lokasi-lokasi nuklir Iran yang sebelumnya hancur, mengindikasikan upaya Teheran untuk memulihkan kembali programnya.
Pola Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran
Pembunuhan ilmuwan nuklir bukanlah hal baru bagi Iran. Sejak tahun 2010, serangkaian insiden serupa telah menargetkan para pakar nuklir Iran, yang secara konsisten dituding Teheran sebagai ulah Israel, terkadang dengan dukungan AS.
Salah satu kasus paling menonjol adalah pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada 27 November 2020. Fakhrizadeh, yang disebut-sebut sebagai “bapak” program senjata nuklir Iran oleh Israel dan pejabat Barat, tewas dalam serangan canggih di dekat Teheran. Laporan mengindikasikan bahwa serangan itu dilakukan menggunakan senapan mesin kendali jarak jauh yang dilengkapi kecerdasan buatan, dioperasikan oleh Mossad dari luar Iran. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif saat itu menyatakan, “Teroris membunuh seorang ilmuwan Iran terkemuka hari ini. Kepengecutan ini – dengan indikasi serius dari peran Israel – menunjukkan kehangatan para pelaku.”
Sebelumnya, pada 11 Januari 2012, Mostafa Ahmadi Roshan, wakil direktur komersial di fasilitas pengayaan uranium Natanz, tewas akibat bom magnet yang ditempelkan ke mobilnya oleh pengendara sepeda motor. Demikian pula, Dariush Rezaeinejad ditembak mati pada 23 Juli 2011 oleh pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor di depan rumahnya. Pada 12 Januari 2010, Masoud Ali-Mohammadi tewas oleh bom sepeda motor yang dikendalikan dari jarak jauh di luar rumahnya.
Israel secara umum tidak pernah mengonfirmasi maupun menyangkal keterlibatannya dalam insiden-insiden ini. Sementara itu, AS secara resmi membantah keterlibatan langsung dalam pembunuhan, meskipun laporan New York Times mengenai pembunuhan Fakhrizadeh menyebutkan bahwa operasi tersebut kemungkinan memerlukan “persetujuan” dari pemerintahan AS saat itu.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai, namun Israel dan AS terus mencurigai Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Serangkaian pembunuhan ini menjadi bagian dari konflik bayangan yang lebih luas, dengan Iran bersumpah akan membalas dendam dan terus melanjutkan program nuklirnya.