Uni Emirat Arab (UEA) kembali dihadapkan pada ancaman keamanan serius setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik langsung ke sejumlah negara Teluk, termasuk UEA, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini, yang diklaim Iran sebagai balasan atas dugaan serangan Israel-Amerika Serikat terhadap wilayahnya, menyebabkan satu warga sipil tewas di Abu Dhabi dan memicu kekhawatiran mendalam akan stabilitas regional.
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa pertahanan udara mereka berhasil mencegat gelombang rudal Iran, namun puing-puing yang berjatuhan di Abu Dhabi menewaskan seorang warga negara Pakistan. Serangan ini tidak hanya menargetkan pangkalan militer AS di Al-Dhafra, UEA, tetapi juga menyebabkan pecahan rudal tersebar di berbagai wilayah sipil seperti Pulau Saadiyat, Kota Khalifa, Bani Yas, Kota Mohamed bin Zayed, dan Al Falah. Saksi mata di Dubai juga melaporkan mendengar ledakan keras dan melihat rudal melintas di langit, menggambarkan pemandangan tersebut sebagai “bola api” diikuti jejak asap.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan kecaman keras terhadap serangan tersebut, memperingatkan adanya “konsekuensi serius” jika pelanggaran semacam ini terus berlanjut. Mereka menegaskan bahwa setiap serangan terhadap negara-negara Teluk merupakan “serangan terhadap keamanan dan stabilitas seluruh kawasan.” Pernyataan ini menggarisbawahi posisi UEA yang tidak akan membiarkan serangan teroris dan eskalasi kriminal tanpa tanggapan.
Insiden terbaru ini menambah daftar panjang tantangan keamanan yang dihadapi UEA, menyusul serangkaian serangan rudal dan drone oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran pada Januari 2022. Pada 17 Januari 2022, serangan Houthi menargetkan tiga truk tangki minyak di kilang ADNOC Musaffah dan fasilitas bandara di Abu Dhabi, menewaskan tiga warga sipil dan melukai enam lainnya. Seminggu kemudian, pada 24 Januari 2022, UEA kembali mencegat dua rudal balistik Houthi yang mengarah ke Pangkalan Udara Al Dhafra.
Para analis regional menyoroti bagaimana serangan-serangan ini secara signifikan merusak citra UEA sebagai pusat keuangan dan investasi yang aman dan stabil. Meskipun serangan Houthi pada 2022 tidak berdampak besar pada harga minyak, insiden berulang kali ini menimbulkan keraguan terhadap kemampuan UEA untuk sepenuhnya melindungi wilayahnya dari ancaman eksternal. Barbara Slavin dari Atlantic Council bahkan menyatakan bahwa serangan-serangan sembrono ini mengikis “daya jual utama” UEA, yakni stabilitas perdagangan internasional, investasi, dan pariwisata.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga telah mencermati situasi di Timur Tengah dan mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) di negara-negara terdampak, termasuk UEA, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan menjaga komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat. Eskalasi konflik ini memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah rapuh, menuntut solusi diplomatik yang mendesak untuk mencegah dampak yang lebih luas.