Serangan Udara Gabungan AS-Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei

Teheran diguncang kabar duka sekaligus kemarahan setelah Pemimpin Tertinggi , Ayatollah , dipastikan tewas dalam serangan udara gabungan dan pada Jumat, 28 Februari 2026. Insiden yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada 1 Maret 2026 ini segera memicu gelombang ketidakpastian politik dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Serangan presisi yang dijuluki “Operation Epic Fury” oleh AS dan “Operation Roaring Lion” oleh Israel tersebut menargetkan kompleks kediaman Khamenei di Teheran, serta sejumlah fasilitas strategis dan pejabat tinggi Iran lainnya. Operasi ini dilaporkan berlangsung sangat cepat, dengan serangan hampir simultan dalam waktu 60 detik, yang digambarkan sebagai “serangan siang hari yang masif dan sangat berani.”

Kematian Ayatollah Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989 pada usia 86 tahun, menandai transisi kepemimpinan kedua sejak Revolusi Islam 1979. Selain Khamenei, serangan itu juga merenggut nyawa beberapa anggota keluarganya, termasuk seorang putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki. Sejumlah tokoh militer senior Iran, seperti Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi dan Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, serta sekitar 40 pemimpin Iran lainnya, juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Di sisi lain, Pentagon mengonfirmasi bahwa tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya terluka selama operasi militer tersebut, menandai korban pertama dari pihak Amerika dalam konflik yang dengan cepat memanas ini.

Intelijen dan Tujuan Operasi

Menurut laporan, operasi ini merupakan puncak dari pengumpulan intelijen selama puluhan tahun oleh dinas rahasia Israel, yang dalam enam bulan terakhir diperkuat dengan sumber daya teknologi dan personel krusial dari CIA dan badan intelijen AS lainnya. Tujuannya jelas: menggulingkan rezim ulama radikal di Teheran, menghambat program nuklir dan rudal Iran, serta memicu perubahan rezim.

Seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menewaskan Khamenei bersama tujuh “anggota kepemimpinan keamanan tinggi Iran yang berkumpul di beberapa lokasi di Teheran” dan sekitar selusin anggota keluarga serta rombongan dekatnya.

Reaksi dan Dampak Regional

Kematian Khamenei segera memicu respons keras dari Iran. Pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur umum untuk memperingati kepergian pemimpin tertinggi mereka. Garda Revolusi Iran bersumpah akan memberikan “hukuman berat” kepada para “pembunuh” dan melancarkan serangan balasan cepat berupa rudal dan drone ke Israel serta pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut. Ketegangan semakin memuncak dengan penutupan Selat Hormuz dan pembatasan internet yang meluas di seluruh Iran.

Di tengah kekacauan, Iran bergerak cepat untuk menstabilkan kepemimpinan. Ayatollah Alireza Arafi, 67 tahun, ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi sementara. Ia akan memimpin Dewan Kepemimpinan sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei, hingga Majelis Ahli memilih pemimpin permanen yang baru. Arafi dikenal sebagai ulama yang berpendidikan di Qom dan memiliki rekam jejak dalam institusi keagamaan Iran.

Kematian Khamenei, yang sebelumnya dikabarkan mengalami masalah kesehatan serius dan absen dari panggung politik sejak November 2025, telah lama menjadi spekulasi. Namun, eksekusi serangan ini secara langsung oleh AS dan Israel telah mengubah dinamika geopolitik di kawasan.

Dunia internasional turut bereaksi. Paus Leo menyatakan “keprihatinan mendalam” atas perang di Iran dan Timur Tengah, memperingatkan “tragedi besar” jika kekerasan terus meningkat. Sementara itu, Kepala Rabbi menyerukan doa bagi Israel, dan Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim mengutuk agresi Iran terhadap beberapa negara Arab.