Serangkaian Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran: Teheran Tuduh Israel dan AS di Balik Operasi Rahasia

ilmuwan nuklir iran, israel, amerika serikat, program nuklir iran, mossad

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas menyusul serangkaian serangan yang menargetkan , termasuk pembunuhan sejumlah ilmuwan kunci. Sejak 2010, Iran secara konsisten menuding dan berada di balik operasi rahasia yang bertujuan menghambat ambisi nuklir Teheran.

Insiden terbaru mencuat pada 13 Juni 2025, ketika gelombang serangan Israel dilaporkan menewaskan beberapa ilmuwan nuklir terkemuka Iran. Di antara korban tewas adalah Fereydoon Abbasi-Davani, mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran, serta Mohammad Mehdi Tehranchi, Ahmad Reza Zolfaghari Daryani, dan Abdolhamid Minouchehr. Serangan ini juga merenggut nyawa Amir Hassan Fakhahi, Akbar Motallebzadeh, Ali Bahuei Katirimi, Mansour Asgari, Seyyed Amir Hossein Feghhi, dan Saeed Borji. Laporan lain menyebutkan Mostafa Sadati-Armaki, seorang ilmuwan nuklir, tewas bersama istri dan tiga anaknya dalam serangan Israel di Teheran pada Juni 2025 yang menargetkan area permukiman. Pada 7 Agustus 2025, Iran mengeksekusi Rouzbeh Vadi, seorang ilmuwan nuklir, atas tuduhan menjadi mata-mata dan membocorkan informasi tentang rekan-rekannya yang tewas dalam konflik Juni 2025. Eskalasi berlanjut hingga 28 Februari 2026, ketika Israel mengumumkan telah melancarkan serangan pendahuluan ke Iran.

Salah satu kasus pembunuhan paling menonjol adalah Mohsen Fakhrizadeh, yang disebut-sebut sebagai kepala program senjata nuklir Iran oleh Barat. Ia tewas dalam penyergapan di dekat Teheran pada 27 November 2020. Menteri Luar Negeri Iran saat itu, Mohammad Javad Zarif, secara terbuka menuding Israel sebagai dalang di balik pembunuhan tersebut. Laporan investigasi mengindikasikan penggunaan senapan mesin canggih yang dioperasikan dari jarak jauh oleh tim Mossad, tanpa kehadiran agen di lokasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan pernah secara spesifik menyebut nama Fakhrizadeh dalam presentasi mengenai program nuklir Iran pada 2018.

Sebelumnya, serangkaian pembunuhan ilmuwan nuklir Iran telah terjadi antara 2010 dan 2012 dengan pola yang serupa. Pada 12 Januari 2010, Masoud Ali-Mohammadi, seorang profesor fisika di Universitas Teheran, tewas akibat bom yang dikendalikan dari jarak jauh yang dipasang di sepeda motor di luar rumahnya. Iran menuduh Israel dan AS bertanggung jawab, dan seorang pria bernama Majid Jamali Fashi kemudian mengaku melakukan pembunuhan tersebut atas instruksi Mossad, sebelum akhirnya dieksekusi pada Mei 2012. Pada 29 November 2010, Majid Shahriari, seorang profesor di Universitas Shahid Beheshti, tewas akibat bom yang dilemparkan dari sepeda motor, sementara Fereydoon Abbasi-Davani selamat dari upaya pembunuhan serupa di hari yang sama. Kemudian, pada 23 Juli 2011, Darioush Rezaeinejad, seorang mahasiswa teknik elektro, ditembak mati oleh pengendara sepeda motor di depan rumahnya, melukai istrinya. Terakhir, pada 11 Januari 2012, Mostafa Ahmadi Roshan, wakil direktur departemen pembelian fasilitas nuklir Natanz, tewas oleh alat peledak bermagnet yang ditempelkan ke mobilnya. Dalam semua kasus ini, Iran menuding Israel dan AS sebagai dalang.

Pemerintah Iran secara konsisten menyalahkan Israel dan, dalam beberapa kesempatan, Amerika Serikat atas pembunuhan para ilmuwannya, menyebutnya sebagai tindakan terorisme negara. Sementara itu, Israel umumnya menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal keterlibatannya dalam insiden-insiden tersebut. Namun, mantan kepala Mossad Yossi Cohen pernah memberikan pengakuan terdekat Israel atas tanggung jawabnya dalam pembunuhan Fakhrizadeh. Pejabat AS, meskipun menyangkal keterlibatan langsung, dilaporkan telah mengonfirmasi hubungan Israel dengan beberapa operasi. Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon pernah menegaskan, “Kami akan bertindak dengan cara apa pun dan tidak bersedia mentolerir Iran yang bersenjata nuklir.”

Rangkaian pembunuhan ini menggarisbawahi perang intelijen yang intens di Timur Tengah, dengan program nuklir Iran sebagai pusat ketegangan. Meskipun Iran bersikeras programnya bersifat damai, Israel dan sekutunya tetap memandang ambisi nuklir Teheran sebagai ancaman serius yang harus dihentikan, bahkan melalui operasi rahasia yang berisiko tinggi.