Shell Jajaki Penjualan Saham LNG Australia, Perkuat Kemitraan dengan ADNOC di Proyek Ruwais

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

shell, adnoc, lng, australia, ruwais

Raksasa energi global, Plc, tengah mempertimbangkan untuk melepas sebagian kepemilikannya di aset gas alam cair () di , khususnya di fasilitas ekspor North West Shelf. Langkah ini terjadi di tengah upaya perusahaan untuk menyelaraskan portofolio bisnisnya secara global. Di sisi lain, Shell justru mempererat kemitraan strategisnya dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) melalui perjanjian pasokan LNG jangka panjang dari proyek di Uni Emirat Arab.

Shell dikabarkan sedang menjajaki penjualan 16,67% sahamnya di pabrik ekspor LNG North West Shelf senilai A$34 miliar (sekitar US$22 miliar) yang berlokasi di Australia Barat. Potensi divestasi ini diperkirakan bernilai lebih dari US$3 miliar. Sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa Shell ingin keluar dari proyek North West Shelf karena rencana transisinya menjadi fasilitas ‘third-party tolling’, di mana pembeli membayar biaya untuk mencairkan gas. Model bisnis semacam itu disebut tidak sesuai dengan strategi dan portofolio grup yang lebih luas. Keputusan ini menyusul penjualan saham Shell di pengembangan Browse LNG pada tahun 2023.

Namun, di tengah potensi divestasi tersebut, Shell juga menunjukkan komitmennya terhadap pasokan gas di Australia melalui investasi. Perusahaan ini, melalui usaha patungan 50/50 dengan PetroChina bernama Arrow Energy, tengah berinvestasi dalam pengembangan Fase 2 Proyek Gas Surat di Queensland, Australia. Gas dari proyek ini nantinya akan dialirkan ke fasilitas LNG Queensland Curtis (QCLNG) yang dioperasikan oleh Shell, di mana Shell memiliki 73,75% saham. Produksi gas pertama dari Fase 2 Proyek Gas Surat diharapkan dapat dimulai pada tahun 2026.

Di panggung global, Shell dan ADNOC telah mengukuhkan kemitraan mereka dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli (SPA) LNG berjangka 15 tahun. Kesepakatan ini, yang ditandatangani pada 4 November 2025, saat Konferensi dan Pameran Perminyakan Internasional Abu Dhabi (ADIPEC), mencakup pasokan hingga 1 juta ton per tahun (mtpa) LNG dari proyek Ruwais di Uni Emirat Arab. Shell sendiri juga memiliki 10% saham di proyek LNG Ruwais melalui anak perusahaannya, Shell Overseas Holdings Limited.

Proyek LNG Ruwais, yang sedang dikembangkan di Al Ruwais Industrial City, Abu Dhabi, ditargetkan memiliki kapasitas 9,6 mtpa dan diharapkan mulai beroperasi penuh pada akhir tahun 2028. Fasilitas ini akan menjadi yang pertama di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang beroperasi dengan tenaga bersih, menjadikannya salah satu proyek LNG dengan intensitas karbon terendah di dunia. Fatema Al Nuaimi, CEO ADNOC Gas, menyatakan bahwa perjanjian dengan Shell ini merupakan tonggak penting yang memperkuat posisi ADNOC sebagai pemasok LNG rendah karbon global yang andal. Ia juga menyoroti kecepatan luar biasa proyek Ruwais dalam mengamankan lebih dari 80% kapasitasnya melalui kesepakatan jangka panjang hanya dalam 16 bulan sejak Keputusan Investasi Akhir (FID) pada Juli 2024.

Tom Summers, Executive Vice President Shell LNG Marketing and Trading, menambahkan bahwa kemitraan Shell dengan ADNOC telah terjalin lebih dari 50 tahun, dan keduanya memiliki visi yang sama dalam memperkuat keamanan energi global melalui kolaborasi strategis.

Di luar Australia, Shell juga tengah mengevaluasi divestasi aset di ladang serpih Vaca Muerta, Argentina, serta bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia, yang ditargetkan rampung pada tahun 2026. Pergerakan strategis ini terjadi di tengah proyeksi pasar LNG global yang diperkirakan akan mengalami kelebihan pasokan pada tahun 2026, dengan pasokan global melonjak hingga 10%, yang berpotensi menekan harga.