Shia LaBeouf: “Orang Gay Berbadan Besar Menakutkan Bagiku” Usai Penangkapan di Mardi Gras

Aktor Hollywood kembali menjadi pusat perhatian publik menyusul penangkapannya di , Amerika Serikat, pada 17 Februari 2026, saat perayaan . Insiden tersebut, yang berujung pada tuduhan penyerangan, kini diperparah dengan pernyataan kontroversial LaBeouf mengenai komunitas LGBTQ+ dalam sebuah wawancara terbarunya.

LaBeouf, yang kini berusia 39 tahun, ditangkap setelah diduga terlibat dalam perkelahian di luar sebuah bar di Royal Street, French Quarter. Ia awalnya didakwa dengan dua tuduhan penyerangan sederhana. Menurut laporan polisi, LaBeouf disebut menjadi agresif dan harus dikeluarkan dari tempat usaha tersebut. Setelah di luar, ia diduga memukul seorang pria beberapa kali, kemudian kembali dan menyerang individu yang sama lagi, serta memukul pria kedua.

Yang lebih memberatkan, para korban, Jeffrey Damnit (seorang penghibur yang sering berbusana drag) dan Nathan Thomas Reed (yang mengidentifikasi diri sebagai queer), menuduh LaBeouf melontarkan cercaan homofobik, termasuk kata “faggot,” selama insiden tersebut. Sebuah video bahkan menunjukkan LaBeouf mengucapkan cercaan homofobik saat ditahan polisi.

Dalam wawancara dengan Andrew Callaghan dari Channel 5 yang dirilis pada 28 Februari 2026, LaBeouf memberikan pandangannya tentang kejadian tersebut dan membuat pernyataan yang memicu gelombang kritik. Ia mengklaim merasa “takut” ketika didekati oleh tiga pria gay pada Fat Tuesday. “Orang gay berbadan besar menakutkan bagiku,” ujarnya, menambahkan bahwa ia merasa tidak nyaman ketika mereka berdiri dekat dan menyentuh kakinya. LaBeouf melanjutkan, “Jika itu homofobik, maka aku adalah itu.”

Meskipun mengakui menggunakan cercaan yang “tidak pantas diucapkan” dan bertanggung jawab atas tindakannya, LaBeouf juga menyatakan bahwa ia sedang mabuk saat itu. “Aku mabuk, dan kemudian aku merasa ruang pribadiku dilanggar dalam hal kedekatan. Tapi aku tidak dalam kondisi pikiran yang benar, jadi itu salahku,” katanya. Ia juga menambahkan, “Aku baik-baik saja dengan gay, [tapi] jadilah gay di sana, jangan gay di pangkuanku.”

Menariknya, LaBeouf menampik anggapan bahwa ia memiliki masalah minum. Sebaliknya, ia menyarankan bahwa ia memiliki “kompleks pria kecil” yang berkaitan dengan kemarahan dan ego. “Aku pikir ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemarahan dan ego lebih dari sekadar minumku,” ungkapnya.

Pasca-insiden ini, LaBeouf menghadapi konsekuensi hukum yang lebih berat. Sebuah surat perintah penangkapan baru dikeluarkan pada 27 Februari 2026, terkait insiden tersebut, dan ia ditangkap kembali dengan tuduhan penyerangan ketiga. Hakim Simone Levine mencabut pembebasan awalnya dan menetapkan jaminan sebesar $100.000 setelah mengetahui rincian tuduhan komentar homofobik. LaBeouf telah membayar jaminan tersebut dan diperintahkan untuk menjalani rehabilitasi serta tes narkoba dan alkohol secara teratur. Ia juga tidak diizinkan meninggalkan negara bagian.

Ini bukan kali pertama LaBeouf berurusan dengan hukum atau terlibat kontroversi. Ia memiliki riwayat masalah hukum, termasuk penangkapan sebelumnya karena perilaku tidak tertib dan mabuk di depan umum, serta gugatan dugaan penyerangan seksual yang diselesaikan di luar pengadilan pada tahun 2025. Pada akhir 2023, LaBeouf diketahui telah memeluk Katolik dan bahkan sempat menyatakan minatnya untuk menjadi diakon.

Di tengah semua kontroversi ini, LaBeouf tetap aktif di dunia akting. Ia memiliki beberapa proyek film mendatang, termasuk “Metropolis” (2024), “Redemption” (2025), “Angel of Death” (2026), dan “The Prison Cowboy King” (2027), di mana ia juga terlibat dalam penulisan skenario untuk “Angel of Death”.