Fenomena kepulangan sejumlah pemain Tim Nasional Indonesia, khususnya mereka yang berstatus naturalisasi, ke kompetisi domestik BRI Super League pada musim 2025/2026 menjadi sorotan hangat di kancah sepak bola nasional. Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, turut angkat bicara mengenai tren ini, menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar.
Shin Tae-yong, yang kini tidak lagi menukangi skuad Garuda, menyampaikan pandangannya pada Jumat, 20 Februari 2026. Pelatih asal Korea Selatan itu menilai bahwa kepindahan para pemain diaspora ke Super League adalah hal yang wajar. “Ya tidak masalah. Yang penting masing-masing pemain berusaha keras di tim masing-masing,” ujar Shin kepada awak media di Jakarta. Ia menekankan pentingnya menit bermain dan dedikasi maksimal dari setiap pemain di klub barunya di Indonesia.
Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, mengamini pandangan bahwa tren ini merupakan proses alamiah dalam dinamika sepak bola profesional. Menurut Kusnaeni, motivasi utama di balik kepindahan para pemain berdarah Indonesia ini adalah kebutuhan untuk mendapatkan menit bermain reguler, bukan semata-mata faktor komersial atau popularitas. Banyak dari mereka dilaporkan kesulitan menembus skuad inti di klub-klub sebelumnya di luar negeri, menjadikan langkah kembali ke Indonesia sebagai strategi untuk menjaga ritme pertandingan dan kualitas performa.
Sejak awal musim 2025 hingga bursa transfer paruh musim 2025/2026, sejumlah nama besar telah meramaikan BRI Super League. Persija Jakarta menjadi salah satu klub yang aktif mendatangkan pemain naturalisasi, seperti Jordi Amat dari Johor Darul Ta’zim, Shayne Pattynama dari Buriram United, dan Mauro Zijlstra dari FC Volendam, serta kiper Cyrus Margono. Sementara itu, Persib Bandung memperkuat lini tengahnya dengan Thom Haye dari Almere City, Eliano Reijnders dari PEC Zwolle, dan Dion Markx dari TOP Oss. Dewa United juga tak ketinggalan dengan mengamankan jasa Rafael Struick dari Brisbane Roar dan Ivar Jenner dari FC Utrecht. Bali United turut diperkuat oleh Jens Raven yang didatangkan dari FC Dordrecht.
Kehadiran para pemain naturalisasi ini dinilai membawa dampak positif bagi kualitas kompetisi domestik. Pengamat Aris Budi Sulistyo menyebut fenomena ini sebagai tanda meningkatnya kualitas liga, yang sekaligus menguntungkan Timnas Indonesia. Dengan para pemain bintang berkumpul di liga lokal, pelatih Timnas Indonesia saat ini, John Herdman, akan lebih mudah memantau performa mereka dan membangun chemistry tim.
Meskipun demikian, tren ini juga memunculkan beragam tanggapan. Ada yang menyambut baik karena dianggap meningkatkan level kompetisi, namun tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai penurunan karier bagi pemain yang sebelumnya berkiprah di Eropa. Di sisi lain, beberapa pemain naturalisasi memilih untuk tetap berkarier di luar negeri demi menjaga level kompetitif dan perkembangan karier mereka, seperti Ole Romeny (Oxford United), Sandy Walsh (Buriram United), Miliano Jonathans (SBV Excelsior), dan Nathan Tjoe-A-On (Willem II).
Terkait narasi yang beredar bahwa kepulangan pemain naturalisasi ini bertujuan untuk mempermudah panggilan ke Piala ASEAN 2026, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menepisnya. Ia menegaskan bahwa transfer pemain adalah urusan klub dan menyangkut uang, bukan keputusan PSSI untuk turnamen yang tidak masuk kalender FIFA tersebut. Piala ASEAN 2026 sendiri akan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus, di mana Indonesia tergabung di Grup A.
Sebagai informasi tambahan, Shin Tae-yong sendiri telah didepak dari kursi kepelatihan Timnas Indonesia pada awal 2025, digantikan oleh Patrick Kluivert yang juga tidak bertahan lama. Shin Tae-yong sebelumnya sempat mengungkapkan kesedihannya atas kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026, sebuah target yang ia bangun saat masih melatih skuad Garuda.