Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa rencana impor minyak dan gas (migas) senilai US$15 miliar dari Amerika Serikat (AS) akan tetap melalui mekanisme tender dan lelang terbuka. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi mengenai kemungkinan penunjukan langsung terkait kesepakatan dagang timbal balik antara Indonesia dan AS.
Simon menjelaskan, proses pengadaan energi ini merupakan bagian dari praktik bisnis Pertamina yang biasa dilakukan (business as usual) guna memastikan transparansi dan mendapatkan harga yang paling kompetitif. “Jadi tidak ada penunjukan langsung, tetapi seperti biasa mekanisme tender dan bidding yang tentunya terbuka,” tegas Simon dalam konferensi pers virtual dari Washington D.C. pada Jumat, 20 Februari 2026.
Kesepakatan impor energi senilai sekitar Rp 253,47 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.894 per dolar AS) ini merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional. Simon menggarisbawahi bahwa impor masih diperlukan untuk menutupi kesenjangan pasokan di tengah tantangan penurunan alamiah (natural decline) produksi migas dalam negeri. “Skema impor ini adalah jembatan kita menuju kemandirian energi. Untuk memenuhi gap saat ini, kita memang masih membutuhkan impor,” ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menambahkan, alokasi US$15 miliar untuk impor energi dari AS ini bukan berarti menambah volume impor secara keseluruhan, melainkan menggeser porsi impor dari negara-negara lain di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Hal ini juga bertujuan untuk diversifikasi sumber pasokan guna memperoleh harga yang paling bersaing.
Secara rinci, komitmen impor energi dari AS mencakup pembelian gas minyak cair (LPG) senilai US$3,5 miliar (sekitar Rp 59,13 triliun), minyak mentah (crude oil) senilai US$4,5 miliar (sekitar Rp 76,02 triliun), dan bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar (sekitar Rp 118,26 triliun). Pertamina sendiri berencana meningkatkan porsi impor LPG dari AS hingga 70%, dari yang saat ini sekitar 57%.
Sebagai tindak lanjut, Pertamina telah menjalin sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan calon mitra dari AS sejak Juli 2025, termasuk ExxonMobil, Chevron, KDT Global Resources, dan Hartree. Terbaru, Pertamina juga meneken MoU dengan Halliburton untuk kerja sama peningkatan perolehan minyak (oil field recovery). Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pasokan, tetapi juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penerapan praktik terbaik global di industri migas.
Perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia dan AS ini juga mencakup kesepakatan lain, di mana AS akan memberlakukan tarif nol persen untuk 1.819 produk unggulan Indonesia, seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, hingga tekstil. Proses finalisasi kesepakatan ini diperkirakan akan rampung dalam 90 hari ke depan, dengan eksekusi impor migas diharapkan dimulai dalam tiga bulan mendatang.