Siti Sholeha, Pejuang Gagal Ginjal di Duren Sawit: Demi Keluarga, Saya Harus Sembuh

Author Image

Irfan

23 Januari 2026

Siti Sholeha (foto: Berbuatbaik.id)
Siti Sholeha (Foto: berbuatbaik.id)

Jakarta – Di tengah keterbatasan ekonomi, Siti Sholeha, 47 tahun, berjuang melawan gagal ginjal demi keluarganya. Tinggal di rumah petak di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Siti tak pernah absen menjalani kontrol dan cuci darah rutin di fasilitas BPJS Kesehatan. Keinginannya untuk kembali berkumpul dan membahagiakan kedua anaknya menjadi motivasi terbesarnya.

Sebelum sakit, Siti dan suaminya, Ibrahim, bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuka jasa cuci dan gosok baju, serta berjualan gorengan, lontong, dan sambal kacang. Namun, penyakit yang dideritanya membuat roda perekonomian keluarga terhenti. Suami Siti, yang berprofesi sebagai pengojek, kini kesulitan mendapat panggilan karena harus mendampingi Siti menjalani rawat jalan dan rawat inap.

Kepada tim berbuatbaik.id, Siti mengungkapkan harapannya untuk bisa kembali berjualan gorengan saat Ramadan 2026. “Biasanya jual gorengan sama emak dan lainnya. Tapi sekarang sakit, paling ya bantu-bantu sebisanya aja,” ujar Siti.

Siti mengaku sempat sulit menerima kenyataan bahwa ia tak bisa beraktivitas seperti dulu. Kondisi ini membuat keluarga mereka harus bergantung pada bantuan kerabat. Selama lima bulan menjalani terapi cuci darah, Siti menyaksikan kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, Siti juga beberapa kali harus masuk Unit Perawatan Intensif (ICU) karena mengalami sesak napas. “Sebetulnya ini udah enakan dan bisa makan. Dulu sama sekali nggak bisa makan, berat badan turun dari 50 kg jadi 40-41 kg. Sekarang nggak boleh turun lagi berat badannya, karena nggak boleh cuci darah kalau terlalu kurus,” jelas Siti.

Dengan kondisi kesehatan yang terus dipantau, Siti bertekad untuk lebih taat pada aturan dokter. Ia berharap dapat segera pulih, bisa beraktivitas mandiri, dan tidak lagi membebani suami serta anak-anaknya.

Awal Mula Penyakit

Terapi cuci darah yang dijalani Siti berawal dari penyakit diabetes dan hipertensi yang dideritanya sejak 2012. Kadar gula dalam tubuhnya pernah mencapai 600 mg/dL dengan tekanan darah sistolik 200 mmHg, yang membuatnya mengalami sesak napas hebat.

“Sesek banget, tapi sebetulnya sudah minum obat. Akhirnya sama dokter disuruh HD, padahal saya mintanya pakai obat dulu aja,” kenang Siti.

Meskipun cuci darah bukan solusi yang ia inginkan, Siti kini menjalaninya dengan semangat demi kesembuhan dan kebahagiaan bersama keluarganya. Ia berharap dapat terus menjalani terapi tanpa kekhawatiran akan kebutuhan hidup sehari-hari.

Sahabat Baik, mari kita bantu perekonomian keluarga prasejahtera ini agar Siti dapat menjalani terapi tanpa beban. Donasi Anda akan sangat berarti bagi keluarga Siti. Klik berbuatbaik.id untuk menyalurkan donasi 100% tanpa potongan.