Jakarta International Stadium (JIS) menjadi saksi bisu kemenangan tipis Persija Jakarta atas PSM Makassar dengan skor 2-1 dalam lanjutan pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026 pada Jumat, 20 Februari 2026 malam. Namun, euforia kemenangan Macan Kemayoran sedikit tercoreng oleh absennya teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang memicu kritik keras dari kedua pelatih, Mauricio Souza dari Persija dan Tomas Trucha dari PSM.
Pertandingan yang berlangsung dalam tensi tinggi tersebut berakhir dengan gol-gol dari Alaeddine Ajraie pada menit ke-29 dan Maxwell Souza pada menit ke-66 untuk Persija. Sementara itu, PSM sempat menyamakan kedudukan melalui Sheriddin Boboev di menit ke-36. Kemenangan ini membawa Persija naik ke posisi kedua klasemen sementara dengan 47 poin, menyamai perolehan Persib Bandung, sedangkan PSM tertahan di peringkat ke-13 dengan 23 angka.
Absennya VAR Jadi Sorotan Utama
Ketiadaan VAR menjadi topik hangat pasca-laga. Panitia pelaksana telah menginformasikan kepada kedua tim sebelum pertandingan dimulai, bahkan saat sesi pemanasan, bahwa VAR tidak dapat digunakan karena kendala teknis. Situasi ini disebut-sebut sebagai kali pertama VAR tidak aktif selama pertandingan berlangsung setelah implementasinya di Liga 1, dan dinilai merusak citra kompetisi sepak bola Indonesia.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia merasa teknologi tersebut sangat penting untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan krusial di lapangan. “Menurut saya sangat disayangkan tidak ada VAR,” ujar Souza kepada wartawan usai pertandingan. “Saya pikir setiap kejadian yang meragukan, VAR bisa memperjelasnya.” Ia menambahkan, “Sayang di hari ini tidak ada VAR. Apapun yang menjadi keraguan di laga, VAR seharusnya bisa membantu.”
Protes Berujung Kartu Kuning dan Permintaan Maaf Souza
Kekecewaan Souza memuncak saat ia menerima kartu kuning akibat protes kerasnya terhadap keputusan hakim garis terkait dugaan posisi offside pemain PSM. Souza melihat hakim garis sempat ragu dalam mengambil keputusan. “Saya melihat hakim garis berlari. Dia membiarkan permainan berlanjut seolah-olah dia akan menunggu permainan selesai sebelum berkonsultasi dengan VAR,” jelas Souza. “Jika tidak ada VAR, tidak boleh ada penundaan. Anda harus memutuskan saat itu juga. Jujur saja, saya pikir dia akan membiarkan permainan berlanjut dan itulah yang terjadi.”
Meski demikian, pelatih asal Brasil itu kemudian menyampaikan permohonan maaf atas tindakannya. “Ya, saya sudah meminta maaf. Itu benar-benar tindakan yang tidak bertanggung jawab dan ceroboh,” pungkas Souza. Ia juga sempat mengkritik kondisi rumput di JIS yang dinilainya kurang ideal.
Kekecewaan Pelatih PSM Tomas Trucha
Senada dengan Souza, pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, juga mengungkapkan kekecewaannya. Ia berpendapat bahwa absennya VAR sangat memengaruhi jalannya pertandingan dan bahkan mengklaim timnya bisa saja membawa pulang setidaknya satu poin jika VAR berfungsi. “Jika VAR sudah digunakan di dalam kompetisi, seharusnya semua pertandingan [di dalam liga tersebut] setiap pekan menggunakan VAR. Ini penting untuk fair play,” tegas Trucha.
Insiden ketiadaan VAR ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara liga di tengah upaya meningkatkan kualitas dan keadilan kompetisi sepak bola nasional. Harapan agar kejadian serupa tidak terulang kembali demi menjaga integritas dan profesionalisme Super League menjadi sorotan utama dari berbagai pihak.