Spanyol secara konsisten memperkuat hubungan politik dan finansialnya dengan China, sebuah langkah strategis yang terus berlanjut di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks dan peringatan dari Amerika Serikat. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi Asia-Pasifik Madrid yang baru, yang menguraikan prioritas kebijakan luar negeri Spanyol untuk tiga tahun ke depan.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, dijadwalkan kembali mengunjungi China pada 13-15 April 2026. Ini akan menjadi kunjungan keempatnya dalam tiga tahun terakhir, menegaskan komitmen Madrid untuk memperdalam kemitraan dengan Beijing. Dalam kunjungan tersebut, Sánchez diharapkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping, didampingi oleh para pemimpin bisnis Spanyol.
Diplomasi Tingkat Tinggi dan Kesepakatan Strategis
Upaya penguatan hubungan ini telah ditandai dengan serangkaian pertemuan tingkat tinggi. Pada November 2025, Raja Spanyol Felipe VI melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing dan Chengdu, menandai kunjungan pertamanya dalam 18 tahun. Dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, Raja Felipe VI menyaksikan penandatanganan 10 perjanjian kerja sama yang mencakup keamanan pangan, standar fitosanitari, pendidikan bahasa, serta kolaborasi di bidang antariksa dan astronomi. Presiden Xi Jinping sendiri menawarkan visi kemitraan strategis dengan “pengaruh global yang besar” kepada Raja Felipe VI.
Sebelumnya, pada April 2025, PM Sánchez juga telah bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing, sebuah momen penting yang menandai peringatan 20 tahun kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara. Sánchez juga sempat mengunjungi China pada September 2024 untuk pembicaraan dengan para pejabat tinggi, termasuk Presiden Xi Jinping, dengan tujuan utama meningkatkan hubungan ekonomi di tengah kebuntuan perdagangan antara Uni Eropa dan China.
Dinamika Ekonomi dan Investasi
Hubungan ekonomi antara Spanyol dan China menunjukkan peningkatan signifikan. Sejak 2024, China telah menjadi pemasok utama Spanyol, melampaui Jerman dan Prancis. Meskipun demikian, Spanyol masih mencatatkan defisit perdagangan yang substansial dengan China. Pada tahun 2024, impor barang Spanyol dari China mencapai €45 miliar (sekitar US$52,5 miliar), sementara ekspornya ke China hanya €7,5 miliar.
Madrid berupaya meningkatkan akses perusahaan-perusahaan Spanyol ke pasar China dan menarik investasi, khususnya di sektor manufaktur otomotif dan energi terbarukan. China juga menunjukkan minat untuk meningkatkan investasi di Spanyol, terutama di sektor energi surya, hidrogen hijau, dan baterai listrik. Pertukaran ekonomi antara Spanyol dan Asia-Pasifik berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah, dengan pangsa kawasan tersebut dalam perdagangan luar negeri Spanyol terus tumbuh.
Spanyol juga telah menjadi peserta aktif dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) yang diprakarsai China. Pelabuhan-pelabuhan Spanyol seperti Valencia, Bilbao, Barcelona, dan Algeciras menjadi titik penting dalam jaringan konektivitas ini. China Railway Express, jalur kereta kargo yang menghubungkan kota-kota China dengan Madrid, telah mempromosikan perdagangan bilateral, mengangkut produk seperti ham, anggur, dan minyak zaitun Spanyol ke China, serta mainan dan peralatan elektronik China ke Spanyol.
Menyikapi Tekanan AS dan Eropa
Langkah Spanyol untuk mempererat hubungan dengan China ini dilakukan meskipun ada kritik dan peringatan dari Amerika Serikat, khususnya di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump. Mantan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pernah mengecam tindakan Sánchez sebagai “menghancurkan diri sendiri” dan memperingatkan bahwa Eropa akan “memotong tenggorokan sendiri” jika terlalu dekat dengan China. Trump juga sempat mengancam Spanyol akan “membayar dua kali lipat” jika tidak meningkatkan kontribusi ke aliansi pertahanan NATO.
Namun, Spanyol menunjukkan otonomi strategis yang kuat dalam kebijakan luar negerinya. Madrid juga mendorong negara-negara Eropa lainnya untuk berkoordinasi dalam menjalin hubungan dengan Beijing, meskipun Uni Eropa secara umum masih berhati-hati terhadap China terkait isu-isu seperti dukungan terhadap Rusia, subsidi industri, dan ketidakseimbangan perdagangan.
Dalam konteks sengketa perdagangan antara Uni Eropa dan China, Spanyol memilih abstain dalam pemungutan suara terkait tarif Uni Eropa terhadap kendaraan listrik China pada Oktober 2024. Ketika China memberlakukan tarif 62,4% terhadap produk babi Uni Eropa pada September 2024 sebagai balasan, Spanyol, sebagai eksportir daging babi terbesar di Eropa, menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Perdana Menteri Sánchez pun aktif melobi agar tarif tersebut dicabut. Di sisi politik, Sánchez juga menegaskan dukungan Spanyol terhadap prinsip “Satu China” dalam pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping.
Kerja sama dengan China juga dianggap “sangat penting” dalam isu-isu global seperti perubahan iklim. Dengan demikian, Spanyol terus memposisikan diri sebagai jembatan penting dalam hubungan antara China dan Eropa, mencari keseimbangan antara kepentingan ekonomi nasional dan dinamika geopolitik yang lebih luas.