Studi Terbaru Ungkap Risiko Kanker Berbeda pada Vegetarian dan Vegan

Author Image

Bejo

27 Februari 2026

vegetarian, vegan, kanker, diet, nutrisi

Sebuah studi perintis yang diterbitkan pada 27 Februari 2026 di British Journal of Cancer mengungkap temuan menarik mengenai hubungan antara pola makan dan dengan risiko . Penelitian berskala besar ini, yang menganalisis data gabungan dari lebih dari 1,8 juta individu di tiga benua, menemukan bahwa pola makan vegetarian secara signifikan terkait dengan penurunan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker pankreas, payudara, dan prostat.

Namun, studi tersebut tidak menemukan manfaat serupa di antara para vegan. Bahkan, para peneliti mencatat adanya risiko kanker kolorektal yang lebih tinggi pada kelompok vegan dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi daging. Selain itu, vegetarian juga memiliki risiko hampir dua kali lipat lebih tinggi untuk mengembangkan karsinoma sel skuamosa esofagus, jenis kanker kerongkongan.

Dr. Tim Key, profesor emeritus epidemiologi di Oxford Population Health dan salah satu peneliti utama dalam studi ini, berhipotesis bahwa “Kurangnya daging kemungkinan menjadi alasan perbedaan risiko tersebut.” Sementara itu, Dr. Yashvee Dunneram, penulis pertama studi, menduga bahwa risiko yang lebih tinggi pada vegan mungkin disebabkan oleh asupan produk susu yang tidak mereka konsumsi. “Kami menduga bahwa hal itu mungkin karena para vegan tidak mengonsumsi produk susu. Asupan kalsium mereka sangat rendah dalam konsorsium ini,” jelas Dr. Dunneram. Kekurangan penting seperti vitamin B juga disebut-sebut berperan dalam peningkatan risiko karsinoma sel skuamosa pada vegetarian.

Studi ini memantau partisipan selama rata-rata 16 tahun dan melibatkan data dari sekitar 1,64 juta pemakan daging, 57.016 pemakan unggas, 42.910 pescatarian (pemakan ikan), 63.147 vegetarian, dan 8.849 vegan. Faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi risiko kanker, seperti indeks massa tubuh (BMI) dan kebiasaan merokok, turut diperhitungkan dalam analisis.

Kontras dengan Temuan Sebelumnya

Temuan terbaru ini menghadirkan perspektif yang berbeda dari beberapa penelitian sebelumnya. Sebuah studi observasional besar yang dipublikasikan pada Agustus 2025, bagian dari Adventist Health Study-2 yang melibatkan hampir 80.000 anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di AS dan Kanada, justru menunjukkan bahwa vegan memiliki tingkat kanker keseluruhan terendah.

Dalam studi Adventist Health Study-2, vegan memiliki risiko kanker keseluruhan 24 persen lebih rendah, dengan penurunan signifikan pada kanker prostat (43 persen) dan kanker payudara (31 persen). Secara umum, vegetarian dalam studi ini memiliki risiko 12 persen lebih rendah untuk mengembangkan kanker apa pun, dan 18 persen lebih rendah untuk jenis kanker dengan frekuensi sedang, seperti melanoma, tiroid, ovarium, pankreas, lambung, dan limfoma. Bahkan, risiko kanker lambung berkurang hingga 45 persen dan limfoma 25 persen pada vegetarian. Dr. Gary E. Fraser, seorang ahli epidemiologi dari Loma Linda University dan penulis utama studi tersebut, menyatakan, “Ini semua adalah informasi yang relatif unik dan mungkin yang paling kuat yang ada mengenai kanker seperti lambung dan limfoma.”

Manfaat Umum Diet Berbasis Nabati dan Tantangan Nutrisi

Terlepas dari perbedaan temuan spesifik mengenai risiko kanker, banyak penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pola makan berbasis nabati, baik vegetarian maupun vegan, menawarkan berbagai manfaat kesehatan. Diet ini sering dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, serta membantu menjaga berat badan ideal. Makanan nabati kaya akan serat, vitamin, dan antioksidan yang memiliki sifat anti-inflamasi, antioksidan, dan bahkan anti-karsinogenik.

Namun, bagi mereka yang memilih pola makan vegan, perencanaan nutrisi yang cermat menjadi sangat penting. Diet vegan yang tidak terencana dengan baik berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi esensial seperti vitamin B12, zat besi, kalsium, vitamin D, asam lemak omega-3, seng, dan kolin. Kekurangan nutrisi ini dapat memicu masalah kesehatan seperti anemia, gangguan fungsi otak, kerontokan rambut, hingga peningkatan risiko stroke pada beberapa individu.

Para ahli gizi menekankan bahwa kualitas pola makan nabati sangat memengaruhi manfaat kesehatannya. Mengonsumsi makanan nabati yang sehat, seperti biji-bijian utuh, sayuran, dan polong-polongan, dapat memberikan perlindungan maksimal. Sebaliknya, pola makan nabati yang kurang sehat, yang mungkin mencakup biji-bijian olahan, jus buah, dan gula tambahan, justru dapat meningkatkan risiko kesehatan.