Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, harus menerima kenyataan pahit setelah bandingnya ditolak oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Keputusan tersebut mengukuhkan sanksi larangan mendampingi Timnas Indonesia dalam 20 pertandingan internasional serta denda sebesar 15.000 franc Swiss, atau setara dengan sekitar Rp324 juta. Hukuman berat ini merupakan buntut dari insiden panas pasca-pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Indonesia melawan Irak pada 11 Oktober 2025 lalu.
Komite Disiplin FIFA menjatuhkan sanksi tersebut pada 18 November 2025, setelah Sumardji dinilai melanggar Pasal 14 ayat (1) Kode Disiplin FIFA terkait ‘perilaku kekerasan’ terhadap wasit Ma Ning. Dalam laporan resminya, FIFA menyebutkan bahwa Sumardji menyerang wasit asal China itu dari belakang dan mendorongnya secara agresif hingga terjatuh. Insiden ini terjadi di tengah tensi tinggi setelah Timnas Indonesia menelan kekalahan tipis 0-1 dari Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah.
Menanggapi keputusan ini, Sumardji mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa sanksi yang dijatuhkan FIFA terlalu berlebihan dan tidak masuk akal. “Saya super kecewa karena tidak masuk di nalar dengan peristiwanya,” ujar Sumardji. Ia menambahkan bahwa tindakannya saat itu semata-mata untuk menghalangi wasit agar tidak memberikan kartu merah kepada pemain. “Kecuali berbuat kekerasan, saya cuma mau menghalangi saat mau dikasih kartu merah,” jelasnya. Meskipun demikian, ia menyatakan akan menjalani hukuman tersebut. “Sudah, jalanin aja saya. Kalau menurut saya pribadi, menurut saya ya itu kelebihan,” katanya.
Selain Sumardji, dua pemain Timnas Indonesia, Thom Haye dan Shayne Pattynama, juga dilaporkan menerima kartu merah dalam laga yang sama karena dianggap melakukan intimidasi berlebihan terhadap wasit. Insiden ini menambah daftar panjang rekam jejak indisipliner Sumardji selama mendampingi Timnas Indonesia.
Rekam Jejak Kontroversi di Pinggir Lapangan
Sebelum insiden dengan wasit Ma Ning, Sumardji juga pernah diganjar kartu merah pada Oktober 2024. Momen itu terjadi saat Timnas Indonesia bermain imbang 2-2 melawan Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026. Ia diusir dari bangku cadangan karena protes keras terhadap wasit Ahmed Al Kaf, menyusul gol penyeimbang Bahrain di menit ke-90+9. Sumardji kala itu menegaskan bahwa tindakannya adalah bentuk perlindungan bagi pemain. “Saya harus ambil sikap, daripada ada yang kena entah itu pemain atau pelatih,” kenang Sumardji soal insiden tersebut. “Terpaksa saya yang harus protes keras. Akhirnya daripada tidak menentu saya yang ambil sikap supaya aman,” tegasnya.
Fokus Baru sebagai Ketua BTN
Pada 16 Desember 2025, Sumardji resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer Timnas Indonesia senior dan U-23, menyusul kegagalan Timnas U-22 di SEA Games 2025. Kini, perwira polisi dengan pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) ini fokus penuh pada perannya sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN) dan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Meskipun dilarang mendampingi tim di bangku cadangan, Sumardji menegaskan akan tetap menemani Timnas Indonesia selama perjalanan dan di hotel penginapan. Ia juga menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua PSSI Erick Thohir dan jajaran Exco untuk menentukan sosok manajer baru, mengingat tugas tersebut dinilainya sangat berat.