Sebuah kapal tanker yang diduga mengangkut 200.000 barel diesel Rusia menuju Kuba dilaporkan telah mengalihkan rutenya dan kini mengapung di Samudra Atlantik Utara. Peristiwa ini, yang terjadi pada Rabu (25 atau 26 Februari 2026), diperkirakan akan semakin memperparah kelangkaan bahan bakar akut yang tengah melanda negara kepulauan Karibia tersebut.
Kapal tanker bernama Sea Horse, yang berbendera Hong Kong dan dikelola dari Tiongkok, sebelumnya diperkirakan akan tiba di Havana pada awal Maret 2026. Kargo diesel Rusia tersebut dimuat melalui transfer kapal-ke-kapal di lepas pantai Siprus, yang diidentifikasi sebagai distilat menengah Rusia yang berasal dari pelabuhan Laut Hitam. Meskipun data pelacakan kapal menunjukkan sinyal AIS (Automatic Identification System) awalnya mengarah ke Gibraltar, kapal tersebut telah melewati Gibraltar beberapa hari lalu dan kini berlayar ke arah barat di tengah Atlantik.
Krisis Energi Kuba Makin Memburuk
Kuba saat ini menghadapi krisis bahan bakar terparah dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan di sebagian besar wilayahnya. Pasokan listrik telah menurun tajam sejak awal tahun, dengan citra satelit menunjukkan tingkat cahaya malam hari di Kuba turun hingga 50 persen. Kelangkaan ini berdampak pada segala aspek kehidupan, mulai dari kompor rumah tangga, transportasi umum, hingga operasional fasilitas publik.
Pemerintah Kuba telah merespons dengan memberlakukan langkah-langkah penjatahan energi yang ketat. Ini termasuk pembatasan penjualan bahan bakar, pengurangan hari kerja bagi perusahaan milik negara, serta penutupan sementara beberapa fasilitas wisata. Dampak paling signifikan juga terasa di sektor penerbangan. Otoritas penerbangan Kuba telah memperingatkan maskapai internasional bahwa pasokan bahan bakar jet (avtur) tidak mencukupi untuk pengisian ulang pesawat di sembilan bandara, termasuk Bandara Internasional Jose Marti di Havana. Akibatnya, maskapai seperti Air Canada terpaksa menangguhkan seluruh penerbangan ke Kuba dan mengoperasikan penerbangan kosong untuk menjemput sekitar 3.000 penumpangnya yang terjebak.
Krisis ini juga melumpuhkan industri pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Kuba. Banyak agen perjalanan internasional mulai menghapus Kuba dari katalog tahun 2026 karena ketidakmampuan negara itu menjamin layanan dasar seperti pendingin dan transportasi. Selain itu, layanan sanitasi terganggu karena kurangnya bahan bakar untuk truk pengangkut sampah, menyebabkan penumpukan limbah di jalan-jalan Havana. Warga Kuba bahkan terpaksa beralih menggunakan panel surya dan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan energi dasar mereka.
Tekanan Sanksi AS dan Respons Rusia
Kelangkaan bahan bakar di Kuba tidak terlepas dari tekanan sanksi yang diperketat oleh Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump, yang kembali menjabat, telah menandatangani perintah eksekutif pada Januari 2026 yang mengancam akan memberlakukan tarif terhadap barang-barang dari negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Trump juga telah menetapkan rezim Kuba sebagai “ancaman yang luar biasa dan tidak biasa” terhadap keamanan nasional AS.
Selain itu, AS telah memutus pasokan minyak Kuba dari Venezuela, yang sebelumnya merupakan pemasok utama, setelah operasi militer AS terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026. Meksiko, yang sempat menjadi pemasok alternatif, juga menghentikan pengiriman minyaknya ke Kuba menyusul ancaman tarif dari Washington. Angkatan Laut AS dilaporkan telah menahan setidaknya sembilan kapal yang mencoba mengirimkan bahan bakar yang dikenai sanksi ke pelabuhan Kuba.
Namun, di tengah tekanan ini, Departemen Keuangan AS pada Rabu (25 Februari 2026) mengumumkan akan mengizinkan perusahaan untuk menjual kembali minyak Venezuela ke Kuba. Izin ini diberikan dengan syarat khusus, yaitu untuk penggunaan komersial dan kemanusiaan, serta tidak boleh diperuntukkan bagi individu atau entitas yang terkait dengan militer, dinas intelijen, atau lembaga pemerintah Kuba. Kebijakan ini muncul setelah negara-negara Karibia menyuarakan kekhawatiran akan dampak krisis kemanusiaan di Havana yang dapat meluas ke kawasan.
Di sisi lain, Rusia, sebagai sekutu lama Kuba, berulang kali menegaskan komitmennya untuk terus memasok minyak ke negara tersebut, meskipun ada peringatan tarif dari AS. Wakil Perdana Menteri Rusia Aleksandr Novak pada Kamis (26 Februari 2026) menyatakan bahwa pemerintah Rusia sedang mempertimbangkan kemungkinan memberikan bantuan bahan bakar kepada Kuba. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menegaskan bahwa Rusia memantau perkembangan di Kuba dan terus menjalin komunikasi intensif dengan mitra Kuba untuk membahas berbagai opsi bantuan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para pakar hak asasi manusia internasional telah mengecam langkah-langkah unilateral AS ini, memperingatkan bahwa krisis energi dapat berkembang menjadi bencana kemanusiaan jika pasokan tidak segera dipulihkan.