Tanker Pakistan Lewati Selat Hormuz via Iran, Indikasi Kendali Teheran atas Jalur Krusial

iran, selat hormuz, tanker minyak, geopolitik, pakistan

Sebuah kapal berbendera baru-baru ini berhasil melintasi dengan mengikuti garis pantai Iran, sebuah manuver yang mengindikasikan semakin kuatnya kendali Teheran atas jalur perairan vital tersebut di tengah ketegangan yang memanas. Kapal “Karachi”, sebuah tanker Aframax yang dibangun pada tahun 2022 dan dioperasikan oleh National Shipping Corp. Pakistan, terlihat berlayar keluar dari selat pada Minggu, 15 Maret 2026, setelah melalui celah antara dua pulau Iran, Larak dan Qeshm, sebelum menuju Teluk Oman.

Perjalanan kapal “Karachi” ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah situasi Selat Hormuz yang hampir sepenuhnya terhenti sejak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa “Karachi” secara terbuka menyiarkan sinyal keberadaannya saat melintasi titik sempit tersebut. Tak hanya “Karachi”, dua kapal pengangkut curah yang sebelumnya singgah di pelabuhan Iran juga dilaporkan mengambil rute serupa pada Senin, 16 Maret 2026, dengan menyiarkan keberadaan mereka. Sebelumnya, pada Sabtu, 14 Maret 2026, dua tanker gas minyak cair (LPG) berbendera India juga berhasil keluar dari selat, diikuti oleh sebuah kapal kargo umum berbendera Gambia pada Selasa, 17 Maret 2026.

Harrison Prétat, wakil direktur Asia Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai bahwa penggunaan rute baru ini dapat menjadi indikasi Iran sedang memberlakukan sistem kontrol lalu lintas maritim. Prétat menambahkan, hal ini juga bisa berarti Iran menyerang kapal atau menggunakan ranjau di rute tradisional, sambil mempertahankan jalur bebas untuk kapal tanker sekutu di sisi lain.

Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Ketat Iran

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan jalur energi paling vital di dunia, menangani sekitar seperlima hingga seperempat perdagangan minyak global dan volume besar ekspor gas alam cair (LNG) setiap harinya. Sejak konflik memanas, Iran telah menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, namun dengan pembatasan khusus bagi kapal-kapal yang terkait dengan AS, Israel, dan sekutu mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan, “Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya tertutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Yang lain bebas melintas.”

Situasi ini telah menyebabkan gangguan parah pada lalu lintas maritim. Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret 2026 turun hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026. Selain itu, laporan mengenai gangguan elektronik yang mengacaukan informasi dari kapal-kapal di wilayah tersebut juga semakin sering terjadi, bahkan menyebabkan “klaster” tanker yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar.

Dampak Ekonomi dan Respons Internasional

Krisis di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak mentah global, dengan Brent crude menembus angka lebih dari 100 dolar AS per barel, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum konflik. Lonjakan harga ini berpotensi memicu inflasi global dan meningkatkan biaya logistik.

Berbagai negara telah merespons situasi ini. Jepang dan AS telah sepakat untuk menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz, sementara Jepang juga telah melepas sekitar 80 juta barel minyak dari cadangannya. China mendesak penghentian segera operasi militer di kawasan tersebut. India berhasil menegosiasikan jalur aman bagi kapal-kapal tanker mereka setelah pembicaraan antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus mengintensifkan diplomasi untuk memastikan kapal-kapal Indonesia dapat melewati Selat Hormuz dengan aman. Dua kapal tanker milik Pertamina, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di Teluk Persia menunggu situasi yang lebih kondusif.

Sebagai langkah adaptasi, beberapa operator pelayaran global mulai mempertimbangkan rute alternatif yang lebih panjang, seperti mengelilingi Benua Afrika melalui Tanjung Harapan, meskipun ini akan menambah waktu tempuh dan biaya operasional secara signifikan.