Suasana latihan PSIS Semarang di Lapangan POJ Semarang pada Rabu, 25 Februari 2026, mendadak memanas setelah dua pemain asing, Rafinha dan Aldair Simanca, terlibat friksi serius yang nyaris berujung adu jotos. Insiden tersebut terjadi di tengah sesi game internal yang intens, dan berhasil diredakan berkat intervensi cepat dari pemain senior, Beto Goncalves.
Insiden Panas Antara Rafinha dan Aldair Simanca
Ketegangan bermula saat sesi game internal, di mana tim dibagi menjadi dua kubu. Rafinha, penyerang asal Brasil, dan Aldair Simanca, bek pinjaman dari Borneo FC, berada di tim yang berbeda. Beberapa benturan keras dalam perebutan bola memicu adu argumen di antara keduanya, yang kemudian memuncak menjadi perselisihan fisik. Momen tersebut berhasil diabadikan oleh Tribun Jateng, menunjukkan betapa seriusnya friksi yang terjadi.
Aldair Simanca, yang berstatus bek pinjaman dari Borneo FC, belakangan memang jarang mendapatkan menit bermain, termasuk saat laga menghadapi Deltras FC. Situasi ini disebut menjadi panggung penting baginya untuk menunjukkan kualitas. Di sisi lain, Rafinha yang bergabung dengan PSIS Semarang dari PSIM Yogyakarta pada 29 Desember 2025, sedang dalam performa menanjak dengan mencetak gol di dua laga terakhir.
Peran Beto Goncalves dan Tensi Tim yang Tinggi
Perkelahian yang berpotensi memanas lebih lanjut berhasil dicegah setelah Alberto Goncalves, salah satu pemain senior di skuad berjuluk Mahesa Jenar, segera melerai kedua pemain. Beto terlihat menenangkan Rafinha dan Aldair agar kembali fokus pada latihan.
Tingginya tensi dalam sesi latihan ini bukan hanya terjadi pada Rafinha dan Aldair. Menjelang akhir latihan, Fahmi Al Ayyubi dan Esteban Vizcarra juga sempat terlibat adu mulut. Hal ini mencerminkan atmosfer kompetitif yang sedang dibangun di dalam tim, terutama menjelang laga krusial kontra Persiba Balikpapan pada Minggu, 1 Maret 2026, dalam lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026.
Reaksi Pelatih Andri Ramawi: Melihat Sisi Positif
Pelatih kepala PSIS Semarang, Andri Ramawi, menanggapi insiden tersebut dengan pandangan positif. Ia menilai dinamika tersebut sebagai bagian dari proses pembentukan mental bertanding.
“Ini hal yang normal. Pasti ada momen yang biasa saja, ada juga yang tensinya tinggi. Itu lumrah dalam sebuah tim,” ujar Andri usai latihan.
Menurut Andri, tingginya tensi justru menjadi indikator bahwa para pemain memiliki ambisi besar untuk tampil sebagai starter dalam laga penting.
“Kalau melihat sisi positifnya, bagaimana mereka semua kompetitif. Dia ingin mencoba menunjukkan ke tim pelatih bahwa mereka mencoba untuk pantas masuk dalam starting line up,” tandasnya.
Komentar pelatih ini menggarisbawahi bahwa di tengah perjuangan PSIS Semarang untuk keluar dari zona degradasi, semangat kompetitif yang tinggi di antara para pemain dianggap sebagai modal penting untuk bangkit.