Timur Tengah Bergejolak: Rudal Iran Hantam UEA, Bandara Dubai Lumpuh, Isu Kematian Khamenei Merebak

Situasi di Timur Tengah memanas drastis pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul serangkaian serangan rudal dan drone yang dilancarkan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di (UEA). Insiden ini menyebabkan ledakan terdengar di ibu kota UEA, Abu Dhabi, dan di dekat Dubai, memicu kekacauan dan penutupan wilayah udara regional.

(DXB) terpaksa membatalkan seluruh penerbangan Emirates hingga Minggu dini hari pukul 03.00 waktu setempat akibat penutupan sebagian wilayah udara. Otoritas penerbangan sipil di Qatar, Kuwait, dan UEA juga mengumumkan penutupan sementara wilayah udara mereka sebagai langkah antisipasi. Laporan awal menyebutkan, satu orang tewas di Abu Dhabi akibat serpihan rudal yang jatuh di area permukiman.

Kabar Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Di tengah eskalasi militer ini, laporan mengejutkan mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Iran, , beredar luas. Media internasional, termasuk Reuters, melaporkan bahwa jasad Khamenei ditemukan di bawah reruntuhan bangunan setelah serangan udara presisi menghantam kompleks kediamannya. Bahkan, mantan Presiden AS Donald Trump disebut-sebut menyatakan, “Khamenei, Salah Satu Orang Paling Jahat dalam Sejarah, Telah Meninggal.” Media Israel juga dikabarkan menunjukkan foto jenazah Khamenei kepada Trump.

Namun, media-media Iran dengan cepat membantah laporan tersebut, menegaskan bahwa Ayatollah Khamenei masih hidup, berada di tempat yang aman, dan akan segera memberikan keterangan pers. Sebelumnya, pada Juni 2025, Khamenei juga dilaporkan dikesampingkan dari keputusan keamanan nasional utama karena penurunan serius dalam kesehatan mentalnya di tengah konflik Israel-Iran.

Eskalasi Konflik dan Reaksi Internasional

Serangan Iran ini merupakan balasan atas gempuran militer yang lebih dulu dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada Sabtu pagi. Presiden AS Donald Trump menyatakan tujuan operasi militer tersebut adalah untuk menghancurkan kekuatan militer Iran dan menggulingkan pemerintahan yang berkuasa. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim rudal dan drone mereka telah menghantam markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta pangkalan-pangkalan Amerika lainnya di Qatar dan Uni Emirat Arab.

Reaksi internasional terhadap eskalasi ini beragam. Arab Saudi mengutuk keras agresi Iran dan menyatakan solidaritas penuh kepada UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania, mendesak respons internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kekuatan global lainnya menyerukan penahanan diri dan kembalinya semua pihak ke meja negosiasi untuk meredakan ketegangan. Uni Eropa, Palang Merah Internasional, Oman, dan Prancis juga mendesak de-eskalasi dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Meskipun pada Januari 2026 Kementerian Luar Negeri UEA sempat menegaskan komitmen untuk tidak mengizinkan wilayah udara, darat, atau perairannya digunakan dalam tindakan militer yang bermusuhan terhadap Iran, UEA kemudian mengutuk keras serangan rudal Iran yang menargetkan negaranya dan negara-negara sahabat.

Dampak Ekonomi dan Keamanan Regional

Ketegangan yang memuncak ini juga berdampak signifikan pada pasar keuangan global. Pasar saham Teluk, termasuk Dubai, mengalami penurunan. Saham maskapai penerbangan menghadapi tekanan besar akibat pembatalan ratusan penerbangan. Sebaliknya, harga emas dan perak melonjak sebagai aset safe haven.

Insiden ini memperbesar risiko konflik terbuka di Timur Tengah, dengan penutupan wilayah udara di beberapa negara Teluk menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap potensi serangan lanjutan. Iran sendiri telah memperkuat kemampuan militernya, termasuk pengembangan rudal anti-kapal untuk menghadapi potensi serangan AS.