Timur Tengah Bergolak: Iran Balas Serangan AS-Israel, Pangkalan Militer Jadi Sasaran

Ketegangan di mencapai puncaknya pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah melancarkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke serta pangkalan militer di berbagai negara Teluk. Aksi balasan Teheran ini menyusul gempuran udara dan laut gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di Iran pada hari yang sama.

Operasi militer gabungan AS-Israel, yang dinamai “Operation Epic Fury” oleh Washington dan “Operation Roaring Lion” oleh Tel Aviv, menargetkan fasilitas program nuklir, sistem rudal balistik, hingga pusat komando Garda Revolusi Iran. Serangan awal ini menghantam kota-kota penting seperti Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, Bushehr, Minab, Tabriz, Khorramabad, Bandar Kangan, dan area Konarak. Palang Merah Iran melaporkan 201 kematian dan 747 korban luka di 24 provinsi, sebagian besar di markas Garda Revolusi Iran dan lokasi peluncuran rudal. Tragedi memilukan juga terjadi di Minab, Provinsi Hormozgan, di mana setidaknya 85 siswa tewas dalam serangan udara yang menghantam sebuah sekolah perempuan.

Sebagai respons, Iran segera meluncurkan puluhan drone dan rudal balistik. Target serangan balasan Iran mencakup wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA, dan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi sasaran. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait dan Bandara Internasional Abu Dhabi, serta menyebabkan empat orang terluka di Bandara Dubai. Di Tel Aviv, satu orang dilaporkan tewas akibat serangan rudal Iran, sementara dua pejuang Pasukan Mobilisasi Populer Irak tewas dan tiga lainnya terluka di Jurf al-Sakhar.

Situasi semakin diperkeruh dengan laporan mengenai Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Beberapa sumber, termasuk media pemerintah Iran yang dikutip oleh The Guardian dan The Hindu, mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei pada usia 86 tahun setelah serangan AS-Israel. Namun, laporan lain menyebutkan bahwa meskipun citra satelit menunjukkan kompleks kediamannya di Teheran hancur, pejabat Iran menyatakan Khamenei tidak berada di lokasi tersebut. Sebelumnya, pada 1 Februari 2026, Khamenei pernah memperingatkan, “Jika AS memulai perang kali ini, itu akan menyebar ke seluruh wilayah.”

Dunia internasional bereaksi keras terhadap eskalasi ini. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menggambarkan peristiwa ini sebagai “ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional” dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengecam serangan AS-Israel sebagai “bukan hanya tindakan agresi; itu adalah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.” Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan, “Inggris Raya tidak berperan dalam serangan ini. Namun kami telah lama menjelaskan – rezim di Iran sangat menjijikkan.” Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengutuk pelanggaran kedaulatan mereka oleh serangan balasan Iran.

Konflik ini merupakan puncak dari ketegangan yang telah meningkat sejak “Perang 12 Hari” antara Iran dan Israel pada Juni 2025, yang juga melibatkan serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah berulang kali mengeluarkan ancaman dan mengerahkan aset militer ke wilayah tersebut, dengan menyatakan, “Rezim ini akan segera menyadari bahwa tidak ada yang boleh menantang kekuatan dan kehebatan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.” Trump juga menegaskan tujuan operasi ini adalah “untuk mempertahankan rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan datang dari rezim Iran.”

Dampak langsung dari eskalasi ini terasa luas, termasuk lonjakan harga minyak global dan kekacauan penerbangan di Timur Tengah. Banyak maskapai global terpaksa menunda atau membatalkan penerbangan, menyebabkan puluhan ribu penumpang terjebak. Iran sendiri telah bersumpah untuk memberikan “hukuman berat” dan menyatakan bahwa “semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah telah menjadi target yang sah. Tidak ada garis merah setelah agresi ini, dan semuanya mungkin terjadi, termasuk skenario yang sebelumnya tidak dipertimbangkan,” menurut seorang pejabat senior Iran kepada Al Jazeera. Situasi di Timur Tengah kini berada di ambang konflik yang lebih luas, dengan konsekuensi yang belum dapat diprediksi.