Kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia di awal 2026, di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Israel-Iran dan konflik Gaza yang tak kunjung usai, memicu kekhawatiran ekonomi global. Dinamika kompleks di wilayah ini tidak hanya mengubah lanskap regional, tetapi juga mengirimkan gelombang ketidakpastian ke seluruh penjuru dunia.
Gejolak Geopolitik yang Tak Mereda
Konflik Israel-Hamas yang meletus pada Oktober 2023 terus menjadi katalis utama bagi gelombang ketegangan baru di Timur Tengah, menyebabkan tragedi kemanusiaan yang mendalam dan memicu reaksi berantai di seluruh kawasan. Dampak riak konflik ini meluas hingga ke Laut Merah, di mana kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Aksi ini telah memicu respons militer oleh Amerika Serikat dan Inggris, membuka front baru yang mengancam jalur pelayaran vital global.
Di sisi lain, kelompok milisi pro-Iran di Irak dan Suriah meningkatkan serangan terhadap pangkalan militer AS, menyoroti peran Iran sebagai pemain kunci yang menunjukkan pengaruhnya melalui jaringan proksinya di seluruh wilayah. Perbatasan Israel-Lebanon juga memanas dengan meningkatnya baku tembak antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Hezbollah, kelompok bersenjata yang didukung Iran, menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala penuh.
Ketegangan antara Israel dan Iran sendiri tetap tinggi setelah konflik singkat pada Juni 2025. Kedua pihak dinilai hanya berada dalam jeda sementara, tanpa penyelesaian mendasar. Amerika Serikat berencana merampungkan pengerahan pasukan di Timur Tengah pada pertengahan Maret 2026, sebagai langkah antisipasi kemungkinan operasi militer terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah memastikan kepada Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu bahwa Washington akan mendukung serangan Israel terhadap Iran jika AS dan Iran tidak mencapai kesepakatan. Trump juga memperingatkan kemungkinan “hal-hal buruk” dapat terjadi jika kesepakatan tidak tercapai. Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia jika negara itu melakukan serangan. Iran juga menegaskan program rudalnya bukan bagian dari negosiasi nuklir karena merupakan urusan pertahanan nasional.
Putaran kedua perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS berlangsung di Jenewa pada 17 Februari 2026, dengan mediasi Oman. Tuntutan utama Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi yang efektif dan dapat diverifikasi.
Dampak Ekonomi Global dan Upaya Mitigasi
Gejolak geopolitik di Timur Tengah telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian global. Harga minyak melonjak akibat konflik Israel-Iran pada April 2024 dan terus dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik. Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD70 per barel, mendekati level tertinggi sejak Juni 2025, seiring dengan peningkatan kehadiran militer AS di wilayah tersebut. Laut Merah dan Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran yang sangat penting, dan peningkatan biaya pengiriman menjadi salah satu hal yang harus dimitigasi.
Eskalasi ketidakpastian juga meningkatkan pergeseran aset ke tempat yang aman (safe haven) seperti mata uang Dolar AS dan emas. Harga emas naik pada 20 Februari 2026 karena investor mengalihkan perhatian mereka ke Timur Tengah. Pemerintah Indonesia terus memantau setiap perkembangan dan menyiapkan berbagai upaya untuk memitigasi segala potensi risiko dampak yang akan muncul, meskipun perekonomian nasional tumbuh solid di kisaran 5% dengan inflasi dalam rentang 2,5±1%.
Ambisi Teknologi dan Prospek Rapuh Menuju 2026
Di tengah ketidakpastian geopolitik, beberapa negara di Timur Tengah juga menunjukkan ambisi besar di sektor teknologi. Arab Saudi berupaya menjadi pusat digital di kawasan tersebut, didorong oleh insentif pajak, zona bebas ekonomi, dan upaya mempromosikan kedaulatan data. Perusahaan investasi kerajaan Arab Saudi, Humain, pada 19 Februari 2026 mengumumkan suntikan dana sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp50 triliun ke perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI. Investasi ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi Arab Saudi untuk mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan memperluas penguasaan teknologi masa depan. Secara global, pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan melonjak drastis hingga mencapai US$2,5 triliun pada tahun 2026, melampaui total biaya proyek-proyek ilmiah dan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.
Memasuki 2026, kawasan Timur Tengah berada di persimpangan jalan, dengan peluang damai yang rapuh dan bergantung pada kesediaan “aktor” utama untuk melakukan penilaian ulang strategis yang mendalam. Israel dihadapkan pada tantangan untuk beralih dari kemenangan militer menuju penyelesaian politik yang berkelanjutan, terutama dalam menawarkan masa depan yang bermartabat bagi rakyat Palestina. Sementara itu, kepemimpinan Iran perlu meninggalkan strategi lama yang kini semakin tidak berfungsi, menghadapi tekanan eksternal dan internal, termasuk program nuklir yang rusak parah, ekonomi yang tertekan, dan dukungan domestik yang terkikis. Tanpa perubahan strategis dari kedua belah pihak, 2026 berisiko menjadi tahun yang tidak sepenuhnya aman, dengan kemungkinan perang baru yang membayangi.