Timur Tengah Membara: AS-Israel Gempur Iran, Beirut Diserang, Harga Minyak Melonjak

Ketegangan di memuncak pada Senin, 2 Maret 2026, setelah serangkaian serangan udara gabungan dan terhadap sasaran strategis di , yang disusul dengan serangan balasan Israel di Beirut, Lebanon. Eskalasi ini terjadi pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Serangan gabungan AS dan Israel, yang diberi nama sandi “Operation Lion’s Roar” oleh Israel dan “Operasi Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS, menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran di berbagai kota, termasuk Tehran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kampanye militer ini diperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu dan berjalan sesuai rencana. Trump juga mengklaim bahwa 48 pemimpin Iran telah tewas, termasuk Khamenei, dan operasi ini berjalan lebih cepat dari jadwal. Palang Merah Iran melaporkan setidaknya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan di Iran, termasuk insiden tragis di sebuah sekolah dasar perempuan di Minab yang menewaskan 108 siswi dan melukai 92 lainnya.

Sebagai respons, Iran melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu di Teluk, seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Hizbullah Lebanon juga turut serta dengan menembakkan roket dan drone ke Israel utara, menargetkan pangkalan di Haifa, sebagai balasan atas kematian Khamenei. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan bahwa serangan balasan mereka menyasar 27 titik dan berjanji akan melanjutkan “balas dendam yang keras secara bertahap”.

Pada Senin dini hari, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Beirut, Lebanon, khususnya di pinggiran selatan Dahiyeh, serta wilayah Lebanon selatan dan Lembah Bekaa. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka, termasuk beberapa anggota senior Hizbullah. Mohammad Raad, Kepala Blok Parlemen Hizbullah, dilaporkan tewas dalam serangan ini. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi bagi lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan timur. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam tindakan Hizbullah sebagai “tidak bertanggung jawab dan mencurigakan” yang membahayakan keamanan negara. Kementerian Pendidikan Lebanon menginstruksikan penutupan seluruh sekolah di negara itu hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dampak ekonomi global terasa signifikan. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, dengan Brent menembus 78,9 dolar AS per barel (naik 7,17%) dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai 71,67 dolar AS per barel (naik 6,95%) pada 2 Maret 2026. Topik “Aramco” menjadi tren di media sosial dan platform berita, mencerminkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dari produsen minyak utama di kawasan tersebut. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran semakin memperparah kekhawatiran pasar, dengan analis memprediksi harga minyak bisa melonjak hingga 120-150 dolar AS per barel jika gangguan berlanjut.

Bagi Indonesia, eskalasi ini berpotensi memicu kenaikan harga BBM, pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp 17.000 per dolar AS, serta tekanan inflasi dan defisit APBN 2026. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyatakan kesediaannya untuk bertolak ke Tehran guna memediasi konflik ini.

Reaksi internasional terpecah. Amerika Serikat dan sekutu dekatnya seperti Kanada dan Australia mendukung serangan sebagai langkah “pencegahan” untuk menghilangkan ancaman nuklir Iran. Sementara itu, Rusia, Tiongkok, Turki, Norwegia, Spanyol, Malaysia, Uni Eropa, dan PBB mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyerukan de-eskalasi. Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, menegaskan bahwa “pintu diplomasi tetap terbuka” dan perundingan nuklir telah mencapai kemajuan signifikan sebelum eskalasi ini. NATO juga dilaporkan menyesuaikan kekuatannya untuk menghadapi ancaman dari Iran.