Timur Tengah Membara: AS-Israel Gempur Iran, Pemimpin Tertinggi Khamenei Dilaporkan Tewas

amerika serikat, israel, iran, ali khamenei, konflik timur tengah

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah (AS) dan melancarkan serangan militer skala besar terhadap pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi yang disebut sebagai “Operation Lion’s Roar” atau “Operation Epic Fury” ini menargetkan berbagai fasilitas militer, infrastruktur pertahanan, dan struktur kepemimpinan di Iran, termasuk ibu kota Teheran.

Serangan gabungan tersebut dilaporkan menyasar kompleks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah dan kantor Presiden Masoud Pezeshkian. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan ini, sebuah perkembangan yang berpotensi mengubah lanskap politik internal Teheran.

Korban Jiwa dan Balasan Iran

Dampak serangan di Iran sangat signifikan. Palang Merah Iran melaporkan 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka di berbagai provinsi hingga Minggu, 1 Maret 2026. Insiden paling tragis terjadi di Minab, Iran tenggara, di mana serangan menghantam sebuah sekolah dasar putri dan menewaskan sedikitnya 148 siswa.

Iran merespons dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, dan Arab Saudi. Serangan balasan Iran ini juga menimbulkan korban jiwa. Di Israel, 9 orang tewas dan 121 luka-luka. Sementara itu, tiga tentara AS tewas dan lima lainnya luka parah. Uni Emirat Arab melaporkan 3 tewas dan 58 luka, sedangkan Kuwait mencatat 1 tewas dan 32 luka, dengan korban luka juga di Qatar, Oman, Irak, dan Bahrain.

Latar Belakang dan Tujuan AS

Serangan ini terjadi di tengah kebuntuan perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa, yang dimediasi oleh Oman. Pembicaraan yang dimulai pada 26 Februari 2026 itu gagal mencapai kesepakatan, dengan AS menuntut Iran membongkar fasilitas nuklir dan menyerahkan uranium yang diperkaya, sementara Iran bersikeras pada haknya untuk pengayaan uranium damai dan pencabutan sanksi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tujuan operasi militer ini adalah untuk “membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran” dan secara eksplisit menyerukan “perubahan rezim” di Iran. “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian,” kata Trump, mendorong rakyat Iran untuk bertindak melawan penguasa mereka. Trump memperkirakan operasi militer ini akan berlangsung sekitar empat minggu.

Sebelumnya, pada 25 Februari 2026, AS telah menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan “armada bayangan” Iran yang digunakan untuk penjualan minyak ilegal, serta jaringan pengadaan senjata yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Kementerian Pertahanan Iran. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye “tekanan maksimum” Washington terhadap Teheran.

Dampak Ekonomi dan Reaksi Internasional

Konflik yang memanas ini segera memicu dampak ekonomi global. Harga minyak melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan kekhawatiran inflasi global serta gangguan rantai pasok meningkat. Iran yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, membuat setiap gangguan di kawasan ini memiliki konsekuensi global. Sebagai respons, OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai April untuk menstabilkan pasar.

Dunia internasional menyerukan de-eskalasi. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan tersebut dan mendesak semua pihak untuk menahan diri serta kembali ke jalur diplomatik. Sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan Polandia, mengeluarkan peringatan perjalanan dan mendesak warganya untuk meninggalkan Iran dan wilayah Timur Tengah lainnya. Negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, juga mengutuk agresi Iran dan pelanggaran kedaulatan terhadap negara-negara Teluk.

Pemerintah Indonesia turut menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan diplomasi. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai mediator guna mendorong dialog antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari serangkaian konfrontasi sebelumnya, termasuk serangan balasan pada April dan Oktober 2024, serta perang singkat pada Juni 2025 yang juga melibatkan serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.