Tiongkok menyerukan gencatan senjata segera menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026. Beijing menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik yang kini mengancam stabilitas regional dan global.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok mendesak semua pihak untuk menghindari eskalasi lebih lanjut, melanjutkan dialog, dan negosiasi. Dalam pernyataannya, Tiongkok menekankan pentingnya menghormati kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran.
Serangan yang disebut Amerika Serikat sebagai “Operasi Epic Fury” dan Israel sebagai “Roaring Lion” ini dilaporkan menargetkan berbagai sasaran di Iran, termasuk di kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei, menyebutnya sebagai “kesempatan terbesar” bagi rakyat Iran untuk “mengambil kembali” negara mereka. Trump juga menyatakan bahwa operasi tempur besar-besaran ini bertujuan untuk “menghilangkan ancaman dari rezim Iran” dan memastikan negara itu tidak dapat mengembangkan senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke Israel dan pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut, termasuk di Kuwait dan Abu Dhabi. Garda Revolusi Iran bersumpah akan melancarkan “operasi ofensif paling ganas dalam sejarah” terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan AS, serta memberikan hukuman “berat” bagi “pembunuh” Khamenei.
Dalam sesi darurat Dewan Keamanan PBB pada 28 Februari, utusan Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, menyatakan bahwa perlindungan warga sipil adalah “garis merah” yang tidak boleh dilanggar dalam konflik bersenjata, dan penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu tidak dapat diterima. Tiongkok juga siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah secepat mungkin.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, memicu krisis kepemimpinan di negara tersebut. Serangan ini juga terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara AS dan Iran terkait program nuklir dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Negosiasi nuklir tidak langsung antara kedua negara yang dimediasi oleh Oman sebelumnya berakhir tanpa terobosan.
Dampak dari konflik ini terasa luas. Beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, mengumumkan penutupan sebagian atau seluruh wilayah udara mereka, menyebabkan pembatalan penerbangan secara massal. Harga minyak mentah Brent global juga melonjak lebih dari 3% pada Jumat sebelumnya, mencapai lebih dari $73 per barel.
Reaksi internasional lainnya bervariasi. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk eskalasi tersebut dan menyerukan penghentian permusuhan segera. Rusia mengecam operasi tersebut sebagai “agresi bersenjata” dan menuntut penghentian segera. Sementara itu, para pemimpin Eropa (Inggris, Prancis, Jerman) menyerukan dimulainya kembali negosiasi nuklir AS-Iran dan mengutuk serangan Iran, namun tidak secara langsung mengomentari serangan AS-Israel. Kedutaan Besar Tiongkok di Israel pada 1 Maret 2026 juga mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya di Israel untuk mengungsi ke daerah yang lebih aman atau meninggalkan negara itu melalui perbatasan Taba menuju Mesir.