Tiongkok secara agresif mendorong transformasi digital di sektor pelayaran dan pelabuhan, mengintegrasikan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas 5G. Langkah ini dilakukan di tengah upaya negara tersebut untuk memperkuat dominasinya dalam industri maritim global, yang telah berlangsung selama 16 tahun terakhir. Meskipun tantangan terkait kesenjangan data sempat menjadi sorotan, Beijing kini berfokus pada pembangunan ekosistem pelayaran pintar yang terintegrasi.
Dominasi Pelabuhan dan Kemajuan Otomatisasi
Tiongkok kini mengelola sembilan dari sepuluh pelabuhan tersibuk di dunia, dengan volume kargo yang ditangani mencapai lebih dari 17 miliar ton dan 330 juta TEU pada tahun 2024 saja. Angka ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam operasional pelabuhan global. Hingga Oktober 2025, Tiongkok telah mengoperasikan 60 terminal peti kemas otomatis penuh, dengan lebih banyak lagi yang sedang dibangun. Selain itu, terdapat 23 terminal peti kemas otomatis dan 29 terminal curah kering otomatis yang telah beroperasi per Juli 2025.
Pelabuhan-pelabuhan utama seperti Pelabuhan Air Dalam Yangshan di Shanghai memanfaatkan lebih dari 130 kendaraan berpemandu tanpa awak (AGV) dan derek berbasis AI. Teknologi ini, bersama dengan integrasi AI, konektivitas 5G, kembaran digital (digital twins), analitik waktu nyata, algoritma prediktif, dan drone pengawas, digunakan untuk memantau dan mengoptimalkan setiap langkah penanganan kargo. Pelabuhan Ningbo-Zhoushan, misalnya, berhasil meningkatkan efisiensi operasionalnya hampir 30 persen berkat penjadwalan pintar dan derek penumpuk otonom. Analisis Standard Chartered bahkan memperkirakan peningkatan produktivitas hingga 30 persen di pelabuhan-pelabuhan otomatis Tiongkok.
Dorongan Menuju Pelayaran Hijau dan Cerdas
Pada Juli 2025, Tiongkok merilis proposal baru yang menekankan pentingnya transisi menuju pelayaran maritim yang hijau, cerdas, dan terbuka. Komitmen ini tercermin dari jumlah armada kapal yang menggunakan energi bersih; hingga akhir 2024, Tiongkok memiliki lebih dari 600 kapal bertenaga LNG, 485 kapal listrik, serta beberapa kapal yang ditenagai metanol dan hidrogen. Delapan pelabuhan, termasuk Tianjin dan Qingdao, sedang menguji coba operasi tanpa karbon. Selain itu, pesanan baru untuk kapal-kapal ramah lingkungan kini menyumbang 70 persen dari pasar global.
Menteri Sumber Daya Alam, Guan Zhiou, menyatakan bahwa Tiongkok telah menyusun cetak biru lima tahun untuk ekonomi maritimnya, dengan fokus pada pembangunan hijau, inovasi teknologi, dan kerja sama global untuk mendorong pertumbuhan berkualitas tinggi. Ekonomi kelautan bruto Tiongkok (GMP) melampaui 11 triliun yuan (sekitar 1,6 triliun dolar AS) pada tahun 2025, meningkat 5,5 persen dari tahun sebelumnya, dan menyumbang 7,9 persen dari PDB nasional.
Dominasi Industri Perkapalan dan Rencana Jangka Panjang
Tiongkok telah mempertahankan kepemimpinan globalnya dalam tiga indikator utama industri perkapalan – penyelesaian kapal, pesanan baru, dan pesanan yang belum terselesaikan – selama 16 tahun berturut-turut hingga tahun 2025. Pada tahun 2025, produksi perkapalan Tiongkok mencapai 53,69 juta DWT (deadweight tonnage), menyumbang 56,1 persen dari total pasar global. Pesanan baru mencapai 107,82 juta DWT (69 persen pangsa pasar global), dan pesanan yang belum terselesaikan mencapai 274,42 juta DWT (66,8 persen pangsa pasar global).
Kemampuan Tiongkok dalam membangun kapal-kapal berteknologi tinggi seperti kapal induk, kapal pengangkut LNG, dan kapal pesiar besar, yang dikenal sebagai ‘permata mahkota’ dalam pembuatan kapal, semakin mengukuhkan posisinya. Setelah pengiriman kapal pesiar besar buatan dalam negeri pertamanya, Adora Magic City, pada tahun 2023, kapal kedua, Adora Flora City, hampir selesai pada Maret 2026.
Dalam periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), Tiongkok akan menggandakan upaya untuk memajukan pembangunan ‘Tiongkok Digital’ dan mendorong transformasi digital serta cerdas di semua sektor ekonomi dan sosial. Kepala Administrasi Data Nasional, Liu Liehong, menyatakan bahwa data kini memainkan peran yang semakin penting sebagai faktor produksi. Beijing berencana untuk menyusun standar data, menyelaraskan operator milik negara, dan mereplikasi model pelabuhan pintar dengan tumpukan AI dan data Tiongkok antara tahun 2026 dan 2030, dengan target penggunaan AI yang meluas dalam transportasi pada tahun 2027 dan integrasi mendalam di seluruh jaringan pada tahun 2030.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meskipun kemajuan pesat, tantangan seperti sistem lama, persaingan antar vendor, dan geopolitik masih dapat menghambat pembentukan ekosistem yang sepenuhnya terhubung, berpotensi meninggalkan ‘tambalan’ terminal yang kuat namun terlokalisasi. Ketegangan geopolitik dan perang dagang, termasuk tarif AS terhadap kapal Tiongkok, juga menjadi faktor yang memengaruhi industri pelayaran. Namun, Tiongkok tetap berkomitmen pada keterbukaan dan kerja sama internasional dalam tata kelola maritim, serta telah menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi biru dengan lebih dari 50 negara dan organisasi internasional.