Bener Meriah, Aceh – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian melakukan peninjauan langsung ke Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Minggu (11/1/2026), untuk mengevaluasi kondisi pascabencana banjir dan longsor. Kunjungan ini bertujuan memastikan kesiapan infrastruktur, permukiman warga, serta merumuskan langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan relokasi penduduk di area berisiko tinggi.
Evaluasi Jembatan dan Peran TNI
Salah satu titik yang dikunjungi Tito adalah Jembatan Jamur Ujung di Kecamatan Wih Pesam. Jembatan ini dilaporkan rusak parah akibat banjir dan longsor yang menyebabkan perubahan aliran sungai menjadi lebih lebar. Struktur tanah yang terkikis oleh aliran sungai menyebabkan jembatan tersebut roboh.
“Ini betul-betul longsor terjadi ini, sungai yang tadinya kecil [menjadi] lebar seperti ini dan (membuat) jembatan roboh,” ujar Tito dalam keterangannya, Senin (13/1/2026).
Meskipun demikian, Tito mengapresiasi kecepatan penanganan darurat oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia mencatat bahwa perbaikan sementara jembatan berhasil diselesaikan dalam waktu singkat, memulihkan akses bagi masyarakat.
“Tapi alhamdulillah ini teman-teman dari TNI cepat sekali ini 10 hari, di sana 4 hari, selesai,” ungkapnya, merujuk pada durasi perbaikan.
Permukiman Rawan dan Urgensi Relokasi
Dalam peninjauannya, Tito juga menyoroti kondisi permukiman warga yang berada di dekat lokasi bencana. Meskipun beberapa rumah tidak mengalami kerusakan struktural yang signifikan, lokasinya dinilai sangat rawan terhadap potensi bencana susulan.
“Tapi kita lihat rumah-rumah ini, ini rumah-rumah ini tidak terdampak. Jadi kalau seandainya dikatakan rusak ringan, sedang, berat, ya dia nggak dapat apa-apa. Tapi lihat lokasinya, lokasinya ini rawan sekali,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa struktur tanah berpasir di kawasan tersebut rentan terhadap erosi, terutama saat curah hujan tinggi. Oleh karena itu, Tito menegaskan perlunya program relokasi untuk menjamin keselamatan warga.
“Ini kalau seandainya didiamkan, ada hujan lebat lagi, struktur tanahnya dari pasir. Ini bisa terjadi tergerus, jadi mau enggak mau kita harus relokasi,” tegas Tito.
Agenda Lanjutan dan Pemetaan Daerah Terdampak
Kunjungan ke Bener Meriah merupakan bagian dari agenda lanjutan Mendagri setelah sebelumnya menggelar rapat koordinasi dengan para kepala daerah se-Provinsi Aceh di Kantor Gubernur Aceh pada Sabtu (10/1/2026). Rapat tersebut bertujuan menyerap aspirasi daerah untuk percepatan penanganan pascabencana.
Pemerintah telah melakukan pemetaan kondisi daerah terdampak di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Kabupaten Bener Meriah diidentifikasi sebagai salah satu wilayah yang memerlukan dukungan percepatan pemulihan.
Selain Bener Meriah, Tito juga meninjau lokasi terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Gayo Lues pada hari yang sama. Rencananya, Mendagri akan melanjutkan peninjauan ke daerah terdampak di Sumut dan Sumbar.
Dalam kunjungan tersebut, Mendagri didampingi oleh Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Bener Meriah Tagore Abu Bakar, serta pejabat terkait lainnya.