Jalan Tol Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) terpantau padat merayap di sejumlah titik pada Kamis, 19 Maret 2026, seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat yang memulai perjalanan mudik Lebaran 2026. Kepadatan ini merupakan bagian dari gelombang kedua puncak arus mudik yang telah diprediksi oleh pihak kepolisian dan Kementerian Perhubungan.
Jurnalis KompasTV Esra Ambarita melaporkan bahwa kepadatan di Tol MBZ KM 48 Karawang, Jawa Barat, pada Kamis siang pukul 11.21 WIB diakibatkan oleh animo pemudik yang hendak keluar melalui Gerbang Tol Cikampek Utama. Data pada pagi hari menunjukkan lebih dari 8.000 kendaraan telah melintasi tol tersebut, dengan potensi peningkatan volume pada siang hingga malam hari.
Lonjakan Volume Kendaraan dan Prediksi Puncak Arus Mudik
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya telah memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 akan terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan pada 14-15 Maret 2026, sementara gelombang kedua jatuh pada 18-19 Maret 2026. Hal ini disampaikan Kapolri saat memimpin apel Operasi Ketupat di Monas, Jakarta, pada Kamis, 12 Maret 2026.
PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC) mencatat lonjakan signifikan volume kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui Ruas Jalan Layang MBZ. Pada H-4 Lebaran atau Selasa, 17 Maret 2026, tercatat 63.275 kendaraan melintas keluar Jakarta, meningkat hingga 200,54% dibandingkan lalu lintas normal yang hanya 21.054 kendaraan. Peningkatan volume kendaraan juga terjadi pada H-5 Lebaran (Senin, 16 Maret 2026) mencapai 101% dengan 44.075 kendaraan, dan pada Minggu (15/3) tercatat 40.523 kendaraan, melonjak 74,36% dari kondisi normal.
General Manager Operasi dan Pemeliharaan PT JJC, Desti Anggraeni, menyatakan, “Lonjakan signifikan volume kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui Ruas MBZ ini menunjukkan mobilitas pemudik kembali tinggi pada periode pekan gelombang kedua puncak arus mudik.”
Penyebab Kepadatan dan Rekayasa Lalu Lintas
Kepadatan lalu lintas di Tol MBZ tidak hanya disebabkan oleh tingginya volume kendaraan, tetapi juga oleh beberapa faktor lain. Di antaranya adalah perilaku pengguna jalan yang berhenti di bahu jalan, serta adanya kendaraan yang mogok, mengalami overheat, kehabisan bahan bakar, atau ban kempes. Selain itu, pemberlakuan sistem buka tutup di rest area KM 57 juga memicu kepadatan di KM 47 dan 48. Pertemuan arus kendaraan dari Ruas Jakarta-Cikampek di akses keluar KM 48 Ruas Jalan Layang MBZ juga menjadi titik krusial penyebab antrean.
Untuk mengurai kepadatan, berbagai rekayasa lalu lintas telah diterapkan. Sistem contraflow diperluas dari Km 38 Cikarang hingga Km 70 arah Cikampek mulai Rabu, 18 Maret 2026, pukul 00.00 WIB. Akses masuk Tol MBZ di Jati Asih, Kalimalang, dan KM 10 A juga diberlakukan buka tutup secara situasional atas diskresi kepolisian sejak Rabu, 18 Maret 2026, pukul 22.24 WIB.
Sebagai langkah tambahan, jalur fungsional Japek II Selatan resmi dioperasikan untuk pertama kalinya pada 19 Maret 2026 pukul 09.55 WIB, guna membantu mengurai kepadatan. Selain itu, sistem satu arah (one way) berlaku mulai KM 70 ruas tol Jakarta-Cikampek hingga KM 421 jalan tol Semarang-Solo dari 17 Maret 2026 pukul 12.00 WIB hingga 20 Maret 2026 pukul 24.00 WIB, diikuti dengan sistem ganjil-genap.
Imbauan dan Antisipasi Arus Balik
PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC) mengimbau para pengguna jalan untuk memastikan kondisi pengemudi dan kendaraan dalam keadaan prima, menjaga kecukupan bahan bakar minyak (BBM) atau daya listrik, serta mengantisipasi potensi perubahan cuaca, khususnya hujan yang dapat memengaruhi jarak pandang dan kondisi permukaan jalan.
Operasi Ketupat 2026 sendiri berlangsung selama 13 hari, dari 13 hingga 25 Maret 2026, untuk memastikan kelancaran dan keamanan arus mudik Lebaran 2026, yang diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Sementara itu, puncak arus balik Lebaran diprediksi akan terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 24-25 Maret dan 28-29 Maret 2026.