Toyota Pangkas Target Produksi EV 2026 Jadi 1 Juta Unit di Tengah Perlambatan Pasar Global

Motor Corporation telah merevisi target produksi (EV) globalnya untuk tahun 2026, memangkasnya sebesar 30 persen dari proyeksi awal. Keputusan ini diambil di tengah perlambatan pertumbuhan pasar EV global yang turut memengaruhi strategi banyak produsen otomotif lainnya. Meskipun demikian, raksasa otomotif Jepang ini tetap menunjukkan komitmen kuat terhadap elektrifikasi melalui investasi besar dan pengembangan teknologi baterai mutakhir.

Menurut laporan pada September 2024, Toyota kini menargetkan produksi 1 juta unit EV pada tahun 2026, turun dari target sebelumnya sebesar 1,5 juta unit. Penyesuaian ini mencerminkan kehati-hatian Toyota dalam menghadapi dinamika pasar yang bergejolak. Meski demikian, target 1 juta unit EV pada 2026 masih merupakan peningkatan signifikan dibandingkan penjualan sekitar 100.000 unit EV yang dicapai Toyota pada tahun 2023. Perusahaan juga berencana memproduksi lebih dari 400.000 unit EV pada tahun 2025.

Investasi Besar di Amerika Serikat dan Pengembangan Model Baru

Di tengah penyesuaian target produksi, Toyota justru mengucurkan investasi fantastis untuk memperkuat basis manufaktur EV-nya, terutama di Amerika Serikat. Pada Maret 2026, Toyota mengumumkan investasi senilai 1 miliar dolar AS untuk fasilitas produksi di Kentucky dan Indiana. Dana ini dialokasikan untuk memproduksi model-model EV baru, termasuk SUV listrik tiga baris yang akan berbasis Highlander, meskipun produksi di AS untuk model ini sempat tertunda hingga paruh pertama 2026.

Komitmen Toyota terhadap elektrifikasi juga terlihat dari rencana peluncuran 10 model Battery Electric Vehicle (BEV) baru secara global untuk merek Toyota dan Lexus hingga tahun 2026. Selain itu, Toyota juga berambisi memperkenalkan setidaknya tujuh model EV di pasar AS dalam dua tahun ke depan. Model-model baru ini diharapkan dapat memperluas jangkauan produk listrik Toyota di berbagai segmen pasar.

Terobosan Teknologi Baterai Solid-State

Salah satu fokus utama Toyota adalah pengembangan teknologi baterai generasi berikutnya. Perusahaan ini gencar menggarap , yang digadang-gadang sebagai ‘holy grail’ teknologi baterai EV, menjanjikan jangkauan lebih jauh, waktu pengisian lebih cepat, dan keamanan lebih baik. Toyota menargetkan untuk memperkenalkan baterai solid-state pada kendaraan produksinya sekitar tahun 2027 atau 2028, bekerja sama dengan Sumitomo Metal Mining.

Strategi Multi-Jalur dan Pandangan Akio Toyoda

Toyota secara konsisten menganut strategi “multi-jalur” menuju netralitas karbon, yang mencakup pengembangan kendaraan hibrida (HEV), hibrida plug-in (PHEV), kendaraan listrik murni (BEV), dan kendaraan sel bahan bakar hidrogen (FCEV). Pendekatan ini memungkinkan Toyota untuk fleksibel dalam menanggapi permintaan pasar yang beragam. Keberhasilan strategi ini tercermin dari posisi Toyota sebagai produsen mobil terlaris di dunia pada tahun 2025, yang sebagian besar didorong oleh tingginya permintaan akan kendaraan hibrida.

Namun, Chairman Toyota, , masih menyuarakan pandangan hati-hati terhadap transisi penuh ke kendaraan listrik. Ia pernah memperingatkan bahwa fokus eksklusif pada EV dapat menyebabkan hilangnya jutaan pekerjaan di industri otomotif Jepang dan menimbulkan masalah lingkungan jika sumber listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Perlambatan Rival dan Pasar Indonesia

Langkah Toyota untuk menyesuaikan target produksi EV sejalan dengan tren yang terlihat pada beberapa rival global. Sejumlah produsen besar seperti Ford, General Motors, Volkswagen, dan Volvo juga telah merevisi atau memperlambat strategi EV mereka karena tantangan pasar.

Di Indonesia, Toyota juga menunjukkan komitmennya terhadap elektrifikasi. Model SUV crossover listrik bZ4X, yang merupakan BEV produksi massal pertama Toyota, direncanakan akan diproduksi secara lokal di Indonesia pada akhir tahun 2025. Langkah ini diharapkan dapat mendukung percepatan adopsi EV di pasar domestik.