Kondisi iklim global menunjukkan pergeseran signifikan seiring dengan meredanya fenomena La Niña yang lemah dan beralih ke fase netral. Namun, kewaspadaan tinggi diserukan oleh berbagai lembaga meteorologi dunia, termasuk Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), terhadap potensi kembalinya El Niño, bahkan dengan kekuatan yang signifikan, pada paruh kedua tahun 2026.
Menurut pembaruan terbaru dari WMO pada 3 Maret 2026, kondisi netral El Niño-Southern Oscillation (ENSO) diperkirakan akan dominan selama periode Maret hingga Mei 2026, dengan peluang sekitar 60 persen. Peluang ini meningkat menjadi 70 persen untuk periode April-Juni. Namun, memasuki Mei-Juli, peluang kondisi netral sedikit menurun menjadi 60 persen, sementara peluang El Niño mulai meningkat secara bertahap hingga sekitar 40 persen.
El Niño Diprediksi Muncul di Musim Panas
Pusat Prediksi Iklim (CPC) NOAA, pada 12 Maret 2026, mengeluarkan ‘El Niño watch’, menandakan kondisi yang mendukung perkembangan El Niño dalam enam bulan ke depan. Diprediksi ada peluang 62 persen El Niño akan muncul antara Juni dan Agustus 2026 dan bertahan setidaknya hingga akhir tahun. Badan Meteorologi Jepang (JMA) juga memperkirakan bahwa El Niño lebih mungkin terjadi (60%) pada musim panas dibandingkan kondisi netral (40%).
Para peramal cuaca masih belum dapat memastikan seberapa kuat fenomena El Niño yang akan datang ini. Namun, CPC menyebutkan adanya peluang satu banding tiga bahwa El Niño dapat berkembang menjadi ‘kuat’ selama Oktober-Desember 2026, dengan indeks Niño-3.4 mencapai atau melebihi +1.5°C. Beberapa laporan bahkan mengindikasikan kemungkinan ‘super El Niño’.
Dampak Potensial di Indonesia dan Global
Jika El Niño benar-benar terjadi, dampaknya diperkirakan akan meluas secara global. WMO telah memperingatkan adanya sinyal global yang luas untuk suhu permukaan daratan di atas rata-rata selama Maret hingga Mei 2026. Di Amerika Utara, El Niño dapat memengaruhi musim badai Atlantik dengan meningkatkan geser angin yang dapat mengganggu pembentukan badai tropis. Sementara itu, di India, El Niño secara historis dikaitkan dengan perubahan pola angin dan curah hujan monsun yang defisit.
Bagi Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perubahan iklim. Jika El Niño mendominasi sebagian besar tahun 2026, Indonesia berpotensi menghadapi kemarau panjang, terutama di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan juga diperkirakan meningkat, serta potensi krisis air bersih akibat menyusutnya debit air di waduk-waduk utama. Musim kemarau berpotensi datang lebih cepat dengan durasi yang lebih panjang dan kondisi yang lebih kering dari biasanya, disertai peningkatan suhu udara pada siang hari.
Kewaspadaan dan Tantangan Prediksi
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menekankan pentingnya pemantauan ketat. “Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi bagi pengambilan keputusan,” ujarnya. Saulo juga mengingatkan bahwa El Niño pada 2023-2024 merupakan salah satu dari lima El Niño terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global pada tahun 2024.
Meskipun demikian, prediksi yang dikeluarkan pada waktu-waktu seperti ini cenderung memiliki ketidakpastian yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fenomena yang dikenal sebagai ‘penghalang prediktabilitas musim semi boreal’, sebuah batasan yang memengaruhi akurasi prakiraan ENSO. Namun, peluang El Niño yang meningkat didukung oleh jumlah panas yang besar di bawah permukaan laut dan melemahnya angin pasat di lapisan bawah atmosfer.
Dalam upaya meningkatkan akurasi, Pusat Prediksi Iklim NOAA pada Februari 2026 telah mengadopsi Indeks Niño Oseanik Relatif (RONI) yang baru. RONI dirancang untuk lebih baik dalam mengkarakterisasi ENSO dengan memperhitungkan tren suhu laut jangka panjang, memberikan representasi yang lebih akurat tentang variabilitas iklim musiman.