Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (20/3/2026) mengisyaratkan kemungkinan pengurangan operasi militer besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Pernyataan ini muncul di tengah klaim bahwa Washington hampir mencapai tujuan strategisnya dalam konflik yang telah berlangsung selama berminggu-minggu dan mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan, “Kami sudah sangat dekat untuk mencapai tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengurangi upaya militer besar kami di Timur Tengah.” Ia merinci tujuan tersebut meliputi pelumpuhan total kemampuan rudal Iran, penghancuran basis industri pertahanan, pelenyapan angkatan laut dan udara, pencegahan pengembangan kemampuan nuklir, serta perlindungan sekutu di Timur Tengah.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran memuncak sejak 28 Februari 2026, ketika serangan militer besar-besaran dilancarkan terhadap berbagai target strategis di Iran. Trump sebelumnya berdalih bahwa serangan tersebut bersifat preemtif, dengan menyatakan, “Saya pikir mereka akan menyerang lebih dulu. Jika kami tidak melakukannya, mereka akan menyerang lebih dulu. Saya sangat yakin tentang itu.” Namun, ia juga pernah menyangkal bahwa Israel memaksanya untuk bertindak, justru mengklaim, “Tidak. Saya mungkin telah memaksa tangan mereka.”
Pernyataan Trump mengenai potensi deeskalasi ini kontras dengan sikapnya sebelumnya yang menolak gencatan senjata. Pada Jumat (20/3/2026), ia menegaskan, “Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar menghancurkan pihak lain.” Ia juga mengklaim bahwa Iran telah “kalah total” dan kini ingin membuat kesepakatan, namun bukan kesepakatan yang akan ia terima.
Di sisi lain, konflik ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang parah, dengan laporan lebih dari 1.444 korban jiwa di Iran, termasuk 204 anak-anak. Serangan Israel di Lebanon juga menewaskan lebih dari 1.000 orang, sementara 12 orang tewas di Israel dan enam personel militer AS gugur. Krisis ini juga memicu lonjakan harga minyak global dan gangguan signifikan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang ditutup Iran sebagai balasan.
Terkait Selat Hormuz, Trump sempat menekan sekutu untuk membantu mengamankannya, namun kemudian mengindikasikan akan menyerahkan tugas tersebut kepada negara lain, meremehkan ketergantungan AS pada selat itu. Ia bahkan melontarkan kritik tajam kepada aliansi NATO, menyebut mereka “pengecut” dan “macan kertas” karena enggan membantu membuka jalur tersebut.
Dalam konteks regional, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu dengan Presiden Trump di Gedung Putih pada Kamis (19/3/2026). Pertemuan ini menjadi sorotan mengingat Jepang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk impor minyaknya. Takaichi secara terbuka mendukung kebijakan Trump dan operasi militer Israel terhadap Iran, meskipun sikap ini menuai kritik dari warga Jepang. Trump memuji Jepang yang dinilainya lebih aktif dalam merespons konflik Iran dibandingkan NATO.
Meskipun Trump mengisyaratkan pengurangan operasi, masih belum jelas bagaimana Iran akan merespons jika AS secara sepihak menghentikan serangan, terutama setelah serangan terbaru yang menargetkan infrastruktur energi dan menewaskan sejumlah pejabat penting Iran.