Trump Kembali Desak Legislator Muslim ‘Pulang ke Negara Asal’, Sebut ‘Gila’ Pasca-Kecaman di Kongres

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

Mantan Presiden Amerika Serikat kembali memicu gelombang kecaman setelah dilaporkan mendesak dua legislator Muslim, dan , untuk “pulang ke negara asal” mereka. Komentar kontroversial ini muncul menyusul “ketegangan panas” di Kongres, di mana Trump juga menyarankan agar kedua anggota DPR tersebut “dikirim ke institusi kejiwaan”.

Insiden terbaru ini terjadi setelah Omar dan Tlaib secara vokal mengkritik Trump selama pidato tahunannya di Kongres pada Februari 2026. Omar dilaporkan menyebut Trump “pembohong”, sementara Tlaib meneriakkan bahwa kebijakan Trump “membunuh warga Amerika”. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump kemudian menggambarkan para legislator tersebut sebagai sosok yang “gila” dan “sakit jiwa”, yang semakin memperkeruh polarisasi politik di Washington.

Komentar Trump ini menggemakan retorika serupa yang pernah dilontarkannya pada Juli 2019, ketika ia menyarankan sekelompok anggota kongres wanita progresif dari Partai Demokrat, yang semuanya adalah wanita kulit berwarna, untuk “kembali dan membantu memperbaiki tempat-tempat yang sangat rusak dan penuh kejahatan dari mana mereka berasal”. Pernyataan tersebut secara luas ditafsirkan menargetkan Omar, Tlaib, Alexandria Ocasio-Cortez, dan Ayanna Pressley.

Ilhan Omar, yang mewakili Minnesota, adalah warga negara AS yang dinaturalisasi setelah tiba di Amerika Serikat sebagai pengungsi dari Somalia saat masih anak-anak, dan menjadi warga negara pada usia 17 tahun pada tahun 2000. Sementara itu, Rashida Tlaib, yang mewakili Michigan, lahir di Detroit, Michigan, dan merupakan warga negara AS sejak lahir. Tiga dari empat anggota kongres yang ditargetkan pada 2019 (Ocasio-Cortez, Pressley, dan Tlaib) lahir di Amerika Serikat.

Pada tahun 2019, pernyataan Trump memicu kecaman luas dari Partai Demokrat, yang melabeli komentar tersebut sebagai rasis dan xenofobia. Ketua DPR saat itu, Nancy Pelosi, menyatakan, “Komentar xenofobia Presiden dimaksudkan untuk memecah belah bangsa kita.” Sebagai respons, mengesahkan resolusi pada 16 Juli 2019, yang mengutuk “komentar rasis” Trump dengan suara 240 berbanding 187. Empat anggota Partai Republik, bersama dengan seluruh anggota Demokrat, mendukung resolusi tersebut.

Para legislator yang menjadi sasaran juga memberikan tanggapan keras. Ilhan Omar menyebut komentar Trump sebagai “rasisme” dan “sampah”, menegaskan, “Kami lebih dari sekadar beberapa cuitan.” Ia bahkan menyebut Trump “fasis” setelah kerumunan di salah satu rapat umum Trump meneriakkan “Kirim dia kembali!” saat Trump mengkritik Omar. Rashida Tlaib menyerukan pemakzulan Trump, menyatakan bahwa ia “menghasut ketakutan dan kebencian.”

Trump sendiri secara konsisten membela pernyataannya, bersikeras bahwa ia “tidak memiliki tulang rasis dalam tubuh saya!” dan bahwa komentarnya adalah tentang pandangan politik para anggota kongres, bukan ras atau asal-usul mereka. Ia juga mengklaim bahwa para wanita tersebut “membenci negara kita” dan bahwa ia “memenangkan pertarungan politik” dengan retorikanya. Pola retorika serupa terlihat berlanjut, termasuk insiden pada Juli 2024 di mana Trump salah mengidentifikasi Omar sebagai Tlaib terkait protes di salah satu pidatonya, yang kemudian ditanggapi Omar dengan sindiran bahwa Trump “kehilangan ingatannya.”

Kecaman terbaru dari para pemimpin Demokrat menyebut komentar Trump sebagai xenofobia dan memalukan, sementara Council on American-Islamic Relations (CAIR) melabelinya sebagai rasis dan berbahaya. Insiden-insiden ini secara berulang kali menyoroti perdebatan sengit tentang ras, imigrasi, dan identitas di lanskap politik Amerika Serikat.