Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengumumkan penundaan ancaman serangan militer terhadap fasilitas energi Iran. Penundaan ini, yang disebutnya atas permintaan khusus dari pemerintah Teheran, akan berlaku hingga 6 April 2026. Klaim Trump ini muncul di tengah ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah, meskipun pihak Iran membantah adanya permintaan atau negosiasi.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Kamis, 26 Maret 2026, Trump menyatakan bahwa ia menunda “periode penghancuran Pembangkit Energi” selama 10 hari. “Sesuai permintaan Pemerintah Iran, pernyataan ini berfungsi untuk menyatakan bahwa saya menunda periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 Hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 8 malam, Waktu Bagian Timur,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa “Pembicaraan sedang berlangsung dan, terlepas dari pernyataan keliru yang bertentangan oleh Media Berita Palsu, dan pihak lain, mereka berjalan dengan sangat baik.”
Pengumuman ini merupakan penundaan kedua dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, Trump mengancam akan “menghantam dan melenyapkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz pada 23 Maret 2026. Pada 23 Maret, ia menunda ancaman tersebut selama lima hari, dengan alasan “percakapan yang sangat baik dan produktif” dengan Iran untuk mengakhiri perang. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas membantah klaim negosiasi tersebut, menyebutnya sebagai “berita palsu” yang dirancang untuk “memanipulasi” pasar minyak.
Di sisi lain, laporan media Iran pada Kamis, 26 Maret 2026, menyebutkan bahwa Teheran telah menolak proposal gencatan senjata 15 poin dari Gedung Putih. Meskipun demikian, laporan tersebut tidak mengindikasikan kegagalan total dalam negosiasi, menyisakan kemungkinan Washington akan mengajukan proposal lanjutan.
Ketegangan antara AS dan Iran telah menjadi sorotan selama bertahun-tahun. Pada Juni 2019, misalnya, Trump juga pernah membatalkan serangan militer terhadap Iran sebagai balasan atas penembakan pesawat tak berawak pengintai AS RQ-4A Global Hawk oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di atas Selat Hormuz. Saat itu, Trump menyatakan pembatalan dilakukan karena perkiraan korban jiwa sebanyak 150 orang tidak “proporsional dengan penembakan pesawat tak berawak.”
Situasi terkini di Timur Tengah, termasuk konflik yang sedang berlangsung dan dampaknya terhadap pasokan minyak global, menambah kompleksitas klaim Trump. Harga minyak mentah berjangka Nymex WTI untuk pengiriman Mei sempat anjlok lebih dari $4/barel setelah unggahan Trump, sebelum kemudian rebound. Para pemimpin Iran sendiri telah membantah klaim negosiasi dengan Washington untuk mengakhiri permusuhan, melihatnya sebagai kampanye “jawboning” yang terkoordinasi untuk menekan harga minyak.