Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu, 1 Maret 2026, mengklaim bahwa pasukan AS telah berhasil menghancurkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran dan melumpuhkan markas besar angkatan laut negara tersebut. Pengumuman ini disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, di tengah gelombang eskalasi konflik militer antara AS dan Israel dengan Iran yang memanas sejak akhir Februari 2026.
Klaim Trump ini menjadi bagian dari operasi militer yang disebut “Operation Epic Fury,” sebuah kampanye terkoordinasi yang dimulai pada 28 Februari 2026, menargetkan infrastruktur militer Iran, termasuk fasilitas komando dan kontrol, pertahanan udara, serta lokasi peluncuran rudal.
Korvet Kelas Jamaran Iran Jadi Sasaran
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pada 1 Maret 2026, bahwa pasukan Amerika telah menyerang dan menenggelamkan sebuah korvet kelas Jamaran milik Angkatan Laut Iran yang tengah berlabuh di dermaga Chabahar. Kapal tersebut dilaporkan kini tenggelam di dasar Teluk Oman. Korvet kelas Jamaran, yang juga dikenal sebagai kelas Moudge, merupakan kombatan permukaan utama buatan Iran dengan bobot sekitar 1.500 ton, panjang 95 meter, dan diawaki oleh 140 personel.
Balasan Iran dan Korban Berjatuhan
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta fasilitas militer AS di berbagai negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bahkan mengklaim telah berhasil menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln di Teluk, namun klaim ini segera dibantah oleh CENTCOM yang menyatakan bahwa rudal Iran tidak mendekati kapal induk tersebut.
Konflik ini telah menelan korban jiwa. Tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya luka serius pada 1 Maret 2026, menandai korban pertama di pihak AS dalam operasi ini. Selain itu, laporan juga menyebutkan adanya korban sipil di Iran, termasuk insiden tragis serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran selatan yang menewaskan hampir 150 orang.
Dampak Diplomatik dan Retorika Trump
Eskalasi ini juga memicu reaksi diplomatik. Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penutupan kedutaannya di Teheran dan menarik duta besarnya sebagai tanggapan atas serangan rudal Iran yang menargetkan wilayahnya.
Presiden Trump menegaskan bahwa tujuan operasi militer ini adalah untuk menghancurkan kapasitas militer Iran, termasuk industri rudal dan angkatan lautnya. Ia juga menyatakan bahwa operasi berjalan “lebih cepat dari jadwal” dan diperkirakan akan berlangsung “empat minggu atau kurang.” Sebelumnya, pada Februari 2026, Trump sempat menyatakan bahwa pergantian rezim di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi.”
Konflik terbaru ini terjadi setelah periode panjang ketegangan yang memuncak, keruntuhan ekonomi Iran, dan kegagalan negosiasi nuklir antara kedua negara. Pada Maret 2025, Trump pernah mengirim surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan usulan negosiasi baru mengenai kesepakatan nuklir, namun tawaran tersebut ditolak oleh Khamenei.