Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan strategi baru dalam persaingan global kecerdasan buatan (AI) dengan inisiatif yang disebut ‘Tech Corps‘. Program ini dirancang untuk mengirim ribuan ahli matematika dan sains AS ke luar negeri guna memperkuat pengaruh teknologi Amerika dan menahan dominasi pesaing, terutama China.
Inisiatif ambisius ini diumumkan menjelang pembukaan India AI Impact Summit pada Jumat, 20 Februari 2026, dan merupakan bagian dari upaya Washington untuk memperluas pengaruh teknologinya di negara-negara berkembang. ‘Tech Corps’ akan memanfaatkan jaringan Peace Corps, lembaga tradisional AS yang dikenal mengirim relawan untuk kegiatan sosial dan pembangunan, menjadi armada teknologi modern.
Dalam lima tahun ke depan, diperkirakan hingga 5.000 lulusan ilmu pengetahuan dan matematika akan diterjunkan sebagai penasihat maupun tenaga ahli di negara-negara mitra Peace Corps. Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, menjelaskan bahwa misi ini bertujuan untuk mentransformasi Peace Corps yang telah berdiri enam dekade agar tetap relevan di era digital dan persaingan teknologi yang semakin ketat.
“Untuk mempercepat adopsi AI di dunia berkembang, pemerintahan membawa Peace Corps bersejarah Amerika ke abad ke-21 dengan peluncuran Tech Corps,” ujar Kratsios dalam salinan pidatonya. Tujuan utama program ini adalah mendorong negara-negara mitra untuk mengadopsi perangkat keras dan perangkat lunak AI buatan Amerika, sekaligus membatasi penetrasi solusi teknologi dari rival utama AS, yakni China.
Langkah ini merupakan bagian integral dari ‘AI Action Plan’ dan ‘Genesis Mission’ yang lebih luas, yang telah digagas oleh Presiden Trump sejak menjabat kembali pada Januari 2025. Pada November 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk meluncurkan ‘Genesis Mission’, sebuah program nasional yang ambisius untuk membangun platform AI terintegrasi. Program ini bertujuan memanfaatkan kumpulan data ilmiah pemerintah federal untuk melatih model AI generasi terbaru yang dapat mempercepat riset sains. Dalam dokumen perintah tersebut, inisiatif ini disandingkan dengan urgensi dan ambisi Proyek Manhattan yang krusial dalam Perang Dunia II.
Sebelumnya, pada Juli 2025, Trump juga merilis ‘AI Action Plan’ yang komprehensif. Rencana ini berfokus pada penghapusan regulasi yang dianggap menghambat inovasi, pembangunan infrastruktur AI mutakhir seperti pusat data dan pabrik semikonduktor, serta promosi ekspor teknologi AI Amerika secara global. Pemerintahan Trump berpendapat bahwa untuk memenangkan persaingan AI, perusahaan-perusahaan AS harus bebas berinovasi tanpa hambatan regulasi yang berlebihan.
Trump juga telah meneken beberapa perintah eksekutif sejak Januari 2025, termasuk mencabut kebijakan AI era Biden yang dianggap membatasi inovasi, mempercepat proses perizinan untuk proyek infrastruktur AI, dan mempromosikan ekspor model AI Amerika secara internasional. Selain itu, ia berupaya untuk menetapkan satu regulasi AI nasional sebagai standar, yang secara efektif melemahkan aturan AI yang telah atau sedang disusun oleh negara-negara bagian. Penasihat AI Gedung Putih, David Sacks, menyatakan bahwa 50 rezim peraturan yang berbeda menghambat pertumbuhan industri AI yang baru berkembang.
Secara keseluruhan, inisiatif ‘Tech Corps’ mempertegas komitmen pemerintahan Trump untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin tak terbantahkan dalam perlombaan AI global, dengan China sebagai rival utama.