WASHINGTON – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya, menyebut dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Muslim, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, sebagai “orang gila” setelah keduanya meneriakinya dalam pidato kenegaraan State of the Union (SOTU) pada Selasa, 24 Februari 2026. Insiden ini menandai salah satu momen paling tegang dalam pidato yang disampaikannya di hadapan Kongres AS.
Ketegangan memuncak ketika Trump membahas isu imigrasi dan “kota suaka” (sanctuary cities), mengkritik kebijakan yang dianggapnya melindungi para kriminal. Saat itu, Omar, perwakilan dari Minnesota, dan Tlaib, perwakilan dari Michigan, melancarkan protes keras. Omar terdengar berteriak, “Anda telah membunuh warga Amerika! Anda seharusnya malu!” Sementara Tlaib juga menyuarakan sentimen serupa, bahkan menunjuk ke arah Trump dan mengatakan, “Anda menembak mereka. Anda membunuh warga Amerika.”
Kericuhan tidak berhenti di situ. Tlaib juga meneriakkan “Alex bukan kriminal,” merujuk pada Alex Pretti, salah satu dari dua warga Minneapolis yang tewas ditembak agen federal bulan lalu, yang menurut Omar, tewas di bawah administrasi Trump. Omar juga membantah klaim Trump tentang komunitas Somalia di Minnesota, meneriakkan “Itu bohong, dan Anda pembohong!”
Menanggapi interupsi tersebut, Trump awalnya tidak menghentikan pidatonya, namun kemudian membalas dengan keras. Ia menuding anggota Demokrat yang tetap duduk saat tepuk tangan Republik, “Anda seharusnya malu pada diri sendiri, tidak berdiri. Anda seharusnya malu pada diri sendiri.” Setelah insiden teriakan, Trump menyebut para pengganggu, “Orang-orang ini gila! Saya beri tahu Anda, mereka gila!”
Kemarahan Trump berlanjut setelah pidato. Melalui platform Truth Social, ia melabeli Omar dan Tlaib sebagai “orang gila” dengan “mata melotot merah darah seperti orang gila, LUNATIK, sakit jiwa dan gila yang, terus terang, terlihat seperti mereka harus diinstitusikan.” Trump bahkan menyarankan agar mereka “dikirim kembali dari tempat asal mereka — secepat mungkin.”
Di sisi lain, Ilhan Omar menyatakan tidak menyesali tindakannya. Ia menyebut insiden itu “tidak terhindarkan” setelah Trump memprovokasi dirinya dan anggota Demokrat lainnya. Omar menekankan pentingnya mengingatkan presiden bahwa pemerintahannya bertanggung jawab atas kematian dua konstituennya, Renee Good dan Alex Pretti.
Insiden ini bukan kali pertama Trump bersitegang dengan kedua anggota DPR Muslim tersebut. Pada tahun 2019, Trump pernah melontarkan komentar rasis yang meminta mereka “kembali ke negara asal mereka.” Selain itu, Ilhan Omar juga baru-baru ini menjadi korban serangan fisik saat pertemuan balai kota di Minneapolis pada 27 Januari 2026, di mana seorang pria menyemprotkan cairan misterius kepadanya.
Pidato SOTU 2026 juga diwarnai insiden lain, termasuk pengusiran Rep. Al Green dari Texas yang memprotes dengan membawa tanda bertuliskan “Black People Aren’t Apes” sebagai respons terhadap video rasis yang diunggah Trump. Peristiwa ini semakin menyoroti polarisasi politik yang mendalam di Amerika Serikat.